Assalamualaikum Wr Wb
Pada postingan kali ini saya mau menceritakan beberapa karomah Almarhum RKH. Abd Hamid Baqir bin Abd Majid Banyuanyar. Kisah ini saya dapat dari beberapa kiai yang dulunya mereka menjadi santri K. Baqir pada masanya, ini semua saya dapat langsung dari mereka, ibarat sebuah hadist maka kisah ini bisa dikatakan memiliki sanad yang shoheh.
Sebelumnya perlu anda ketahui bahwa dulunya RKH. Abd Hamid Baqir atau yang biasa di panggil dengan sebutan K. Bakir termasuk salah satu pejuang atas kemerdekaan Republik Indonesia akan tetapi menurut beberapa cerita beliau tidak mau di katakan sebagai pejuang padahal perjuangannya sangat besar untuk bangsa kita yang tercinta ini bahkan beliau sampai mendapatkan hadiah dua lambang pancasila yang terbuat dari besi dalam ukuran besar yang di sebut "NUK PERRIH", satunya di letakkan di sebelah timur Banyuanyar dan satunya lagi di latakkan di sebelah selatan Banyuanyar. Dua lambang ini menurut cerita adalah sebuah hadiah dari jenderal Sudomo, dimana ceritanya, Konon dua monumen tersebut merupakan hadiah dari Pangkopkamtib waktu itu di era 1970-an, Jenderal Sudomo yang berkunjung ke Banyuanyar untuk bersilaturahmi dengan KH. Abdul Hamid Baqir. Saat itu masih hangat-hangatnya penerapan azas tunggal oleh rezim Orde Baru.
Maksud dan tujuan pemasangan monumen tersebut antara lain; sebagai penghargaan kepada alm KH. Baqir atas jiwa patriotismenya yang turut serta berjuang melawan penjajah Belanda. Selain itu, sebagai bukti bahwa pondok pesantren berada di garda terdepan dalam membela NKRI. Bahwa Pancasila merupakan falsafah hidup bersama yang digali dari nilai-nilai agama (Islam) dan nilai sosial budaya Indonesia. Pondok pesantren menyadari hal tersebut karena perumus tels Pancasila juga terdiri dari perwakilan kaum santri. Kerelaan menghilangkan 7 kata dalam piagam Jakarta dalam teks Pancasila merupakan pengorbanan besar dari umat Islam untuk Indonesia.
Satu hal lagi yang perlu diteladani dalam kepemimpinan alm KH. Baqir yakni keberanian menerima kunjungan Sudomo yang saat itu memilik memeluk agama Kristen. Selain mengajarkan toleransi, KH. Baqir juga ingin mendudukkan persoalan secara proporsional, yakni menghormati Sudomo sebagai pejabat negara. Indonesia bukanlah negara Islam, maka setiap pejabat negara pun harus dihormati dalam kapasitas sebagai penimpin institusi negara. Mungkin karena barokah Ponpes Banyuanyar, pada tahun 1997 Sudomo kembali memeluk Islam.
Katanya dulu pada masanya K. Baqir di juluki sebgai macam madura dan julukan ini bukan tanpa alasan silahkan anda baca cerita perjalanan kehidupan beliau di bawah ini dan harap baca sampai tuntas agar nanti anda tidak gagal faham.
Semua cerita yang saya satukan ini tak lain sambil mengharap barokah dari beliau beserta para guru yang lainnya di Banyuanyar tanpa terkecuali. Lagipula siapa tahu ada hikmahnya buat kita semua. Amiiiiiinnnnn.
KISAH PERTAMA.
Kisah ini saya dapat dari seorang famili saya yaitu K. Mundzir alumni Banyuanyar. Dulunya beliau menjadi tukang pijat K. Baqir pada masanya. Menurutnya K. Baqir seringkali meminta pijat padanya hanya saja pada saat K. Baqir mau meninggal dunia ia kebetulan lagi pulang kerumahnya padahal menurut penuturannya "seandainya saya tidak kebetulan pulang maka saya yakin K. Baqir akan meninggal di sampingku sebab setiap saat hanya saya yang selalu di panggil untuk memijat beliau, wallahu A'lam".
Selama K. Mundzir memijat beliau ada sebuah keanihan yang sebelumnya tidak di ketahui. Menurutnya K. Baqir kalau meminta pijat jarang sekali dalam waktu singkat artinya seringkali lama sampai berjam-jam, sementara K. Mundzir takut untuk berhenti terkecuali beliau menyuruhnya berhenti.
Maka setiap kali memijatnya ia mengira K. Baqir sampai ketiduran, nah pada suatu malam K. Baqir minta di pijat lagi seperti biasanya, ia di pijat sekitar lepas sholat isyak sampai lepas jam 12 malam. Jadi K. Mundzir mengira setiap kali memijatnya pasti K. Baqir sampai ketiduran begitu juga pada malam itu.
Anehnya selama memijatnya selalu kedengaran bunyi sesuatu kayak bunyi arloji tapi sepertinya bukan bunyi suara arloji dan ternyata setelah berkali-kali di teliti Alhamdulillah pada malam itu menemukan jawabannya.... baru pada malam itu ia tahu bahwa K. Baqir sebetulnya bukan tertidur melainkan berdzikir memakai tasbih, dimana tasbihnya di letakkan dalam sarungnya sehingga K. Mundzir di buatnya tidak sadar bahwa K. Baqir sebetulnya setiap kali di pijat tidak pernah sampai tertidur.
KISAH KE 2.
Kisah ini tetap dari K. Mundzir, dimana pada suatu hari K. Baqir memanggil K. Mundzir ke ruangan khusus. Gak lama dari duduknya tahu-tahu K. Baqir mengambil pisang satu tandan dan berkata " Mun, Makan pisang itu sampai habis" . Maka sesuai perintahnya K. Mundzir langsung memakannya akan tetapi pada saat pertama kali mau menelannya tiba-tiba K. Baqir menanyakan sesuatu maka ya sudah pasti mata K. Mundzir belalakan di samping ketakutan juga pisangnya baru di santap dan belum di telan sudah di tanyak sama K. Baqir.
Menurutnya jika pisangnya mau di muntahkan gak mungkin dan jika harus menjawabnya gimana caranya. maka akhirnya dengan secepat kilat pisang itu di telan sampai habis padahal pisangnya baru saja di santap dan belum di kunyah, Sesudah itu baru menjawabnya sesuai apa yang beliau tanyakann, sehingga dalam menyaksikan hal ini membuatnya K. Baqir tersenyum.
K. Mundzir berkeyakinan bahwa pisang itu sudah di isi doa-doa dari K. Baqir akan tetapi K. Mundzir tidak berani bertanya saking rasa takutnya soalnya ke pribadian K. Baqir baginya memang sangat menakutkan.
KISAH KE 3
Kisah ini sama dari K. Mundzir. Pada suatu hari K. Baqir mewajibkan santrinya untuk sekolah sekaligus K. Baqir mengangkat para ustadz untuk mengajarnya. Perintah ini di sampaikan pas hampir pulangan santri. Maka sesuai titahnya akhirnya semua santri waktu itu yang sebelumnya cuma ngaji bertambah dengan aktivitas sekolah, hal ini berjalan sampai waktu pulangan santri,
Singkat cerita. setelah kembalian dari ke pulangan santri kemudian K. Baqir memberi pengumuman baru pada semua santri bahwa aktivitas sekolah di tutup lagi, K. Baqir berkata "Mulae ken sateyah ba'nah kappi tade' se tetti mured, tade' se tetti kuruh, baan kappi padeh tettih kuruh" . (mulai sat ini kalian tidak ada yang jadi murid, tidak ada pula yang jadi guru, kalian sama menjadi guru". Mungkin maksud dari K. Baqir tidak boleh ada dari santrinya yang merasa jadi guru dan merasa jadi murid dan semuanya telah di angkat sebagai guru. atau mungkin juga maksudnya bahwa santrinya yang patuh pada saat di suruh sekolah maka suatu saat akan menjadi seorang pemimpin.
Atas kejadian tersebut spontan para santri jadi kebingungan, Sama-sama kurang faham apa yang di maksud dari makna titah K. Baqir itu. maka semenjak itulah para santri dan para guru berhenti tak perlu lagi pergi ke sekolah. Kalau semua sudah di angkat guru ya siapa yang mau di angkat sebagai santrinya, bingung kan tapi santri sedikitpun tak ad yang berani usul padanya.
KISAH KE 4
Kisah ini saya dapat dari seorang kiai yang dulunya ia kerjanya cuma mengabdi padanya. Menurut se pengetahuan beliau, di dalam kamar K. Baqir ada tempat sholat khusus yang terbuat dari ranjang bambu . Nah, pada suatu malam K. Baqir memanggil beliau sebut saja namanya Ahmad soalnya saya sudah lupa namanya.
Dengan suara pelan K. Baqir memanggilnya, "Ahmad, kok kamu disitu masuk saja kedalam saya ada kepentingan, buka saja pintunya gak di kunci kok". Padahal pintu kamar tertutup kok bisa K. Baqir mengetahuinya, begitu penuturan K. Ahmad itu. Nah, karena di panggil maka K. Ahmad langsung saja membukanya dan terlihat K. Baqir baru usai sholat. Rencananya K. Ahmad mau masuk ke dalam untuk menghampiri beliau tapi baru satu langkah maju dengan langkah pelan maka seketika itu juga ia mengambil langkah cepat untuk mundur beberapa kali.
Menyaksikan hal itu K. Baqir bertanya, "Ahmad, lo kok mundur kenapa?" . maka dengan wajah ketakutan serta mulut terlihat gemetar si Ahmad ini menjawabnya "Maaf Kiai, bukannya kenapa tapi di bawah tempat sholat ajunan (sampean) itu ada seekor macan.
Saya tanyak kepada K. ahmad itu. "Pada saat lihat macan kenapa sampean sangat takut?. Lalu K. Ahmad menjelaskan kepada saya bahwa seekor macan itu menatapnya dengan pandangan tajam serta mulutnya menganga seperti saja mau memakannya. Maka maulai saat itulah K. Ahmad tahu bahwa K. Baqir di lindungi oleh seekor harimau gaib karena setahu dia selama pengabdi, K. Baqir itu gak punya macan sungguhan.
KISAH KE 5
Kisah ini sama seperti nomer 4, saya dapat dari seorang Kiai yang saya anggap nama beliau K. Ahmad soalnya nama aslinya saya lupa tapi ini cerita nyata bukan rekayasa.
Pada suatu hari. K. Baqir lagi sangat marah yang kata orang madura di namakan "tukah". Beliau tukah di dalam kamar yang pintunya tertutup. Saking rasa penasarannya akhirnya K. Ahmad memberanikan diri mengintip dari lubang kunci pintunya ternyata benar K. Baqir sendirian berdiri sambil marah-marah. Tapi gak lama dari itu K. Ahmad kemudian lari jauh-jauh soalnaya saat K. Baqir marah genting rumahnya merosot berantakan serta atap rumahnya kayaknya mau ambruk dan atap serta gedungnya terus bergoyang sampai K. Majid (ayahnya) dari dalemnya (rumahnya) keluar sambil berteriak "Ambu Kir mi' rempa' (Baqir, jangan teruskan nanti ambruk).
Perkataan K. Majid tersebut di dengar langsung oleh K. Ahmad dan seketika K. Baqir berhenti marah. Jadi andaikan sama K. Majid tidak di suruh berhenti maka bisa jadi kamar K. Baqir akan hancur berantakan hanya gara-gara beliau marah. begitulah penuturan K. Aahmad.
KISAH KE 6
Kisah ini sama, saya dapat dari seorang Kiai yang barusan saya anggap namanya K. Ahmad.
Pada suatu hari K. Baqir menyuruh K. Ahmad untuk bejalan di atas tumpukan kayu yang berduri tajam, ya namanya kayu berduri siapapun pasti takut untuk mencobanya begitu juga K. Ahmad yang ketakutan untuk mencobanya tapi sama K. Baqir tetap di suruh lari di atasnya.
Maka miskipun ada antara yakin dan tidak yakin tetap akan mencobanya demi rasa ketaatan diri kepada sangguru. K. Ahmad sadar bahwa dirinya tidak punya kelebihan apa-apa wong tugasnya cuma pembantu K. Baqir.
Saat mau mencoba K. Ahmad pejamkan mata karena tak ingin matanya melihat tumpukan duri yang tajam-tajam itu. saya tanyak padanaya "Boleh di jelaskan nama pohonnya?. K. Ahmad menjawabnya "pungkanah dadda' " kalau bahasa indonesianya saya kurang faham juga apa itu namanya, tapi subhanallah kata K. Ahmad, sedikitpun kakinya tidak terluka dan tidak terasa sakit sedikitpun, maka semenjak itulah K. Ahmad makin tahu bahwa begitu besarnya karomah K. Baqir itu.
KISAH KE 7
Kisah ini saya dapat dari Almarhum K. Abd Salam termasuk paman saya sendiri. Menurut penuturannya ternyata sama bahwa ke pribadian K. Baqir bin Abd Majid memang sangat menakutkan padahal beliau pada santri tidak pernah marah-marah.
pada suatu hari , semua santri yang ada pada hari itu di panggil mengahadapnya sehinga semua santri serentak mendekatinya dan perasangkaanya sama yaitu sama-sama mengira bahwa K. Baqir pasti lagi mau ngasih ilmu kepada santrinya.
Ternyata praduga santri salah. kebetulan di samping K. Baqir ada dua ekor kuda yang satunya kuda jantan dan satunya lagi kuda betina yang keduanya mau di kawinin maka semua santri yang ada waktu itu sekaligus K. Abd Salam di suruh menyaksikannya tapi disuruh semua duduk. Kita kan sudah tahu bahwa kemaluan kuda jantan besarnya mintak ampun apalagi yang namanya santri masih belum menikah alias masih bujang ya tentu para santri yang menyaksikannya terbawa rasa bernafsu melihatnya.
Kemudian K. Baqir bilang pada santrinya agar jangan lagi menyaksikannya dengan cara duduk, jadi mereka semua di suruh berdiri. tapi tak satupun santri yang mau berdiri, hehehee,,,,, ya bagaimana bisa mau berdiri sementara kemaluan mereka masing-masing sudah kenceng semua yang tentu merasa malu jika sampai nanti ketahuan sama K. Baqir. Berhubung tidak ada yang mau berdiri akhirnya sama K. Baqir semuanya di suruh pergi.
KISAH KE 8
Kisah ini sama dari K. Abd Salam. Katanya selesai ngaji kitab pada K. Baqir tiba-tiba beliau berkata bahwa dirinya punya ilmu mahabbah (pengasihan) yang jika di amalkan akan membuat wanita yang akan di nikahin tergila-gila. maka karena K. Baqir sudah menyampaikan semacam itu bararti mau menurunkan ilmu mahabbah pada santrinya sehingga para santri Sama-sama mengambil bolpoin sekaligus kertas kosong untuk siap-siap menulisnya.
Kemudian K. Baqir nanyak pada semua santri yang ngaji "Mintaah tereh" (Mau mintak kalian?). Maka namanya santri di tanyakan semacam itu ya jelas mau mintak saja apalagi yang mau ngasih seorang gurunya yang memiliki banyak karomah. tapi apa yang terjadi, pas saat santri sudah siap-siap untuk menulis lalu K. Baqir melanjutkan pembicaraannya "Tapi tereh guleh se olleyah elmo nikah sabillunah e patteng kelluh, beremmah siap tereh?" (Tapi wahai santri, sebelum saya mendapatkan ilmu ini tubuhku di tebas dulu, bagaimana siap kalian?".
Karena mendengar perkataan K. Baqir semacam itu maka dengan sepontan semua bolpoin dan kertasnya para santri langsung di letakkan sambil merunduk ketakutan dan gak jadi untuk memintanya bahkan semua ketakutan soalnya takutnya nanti salah satu dari santri akan di tunjuk untuk menerima ilmu tersebut tapi untungnya K. Baqir gak jadi untuk memberinya maka semua santri menjadi bahagia walau sedikit bercampur kecewa. Kata K. Abdus salam kebetulan waktu itu banyak santri yang menginginkan ijazah ilmu mahabbah yang langsung dari K. Baqir dan ternyata keinginan santrinya sudah terbaca oleh K. Baqir.
KISAH KE 9
Kisah ini sama dapat dari K. Abdus Salam, di suatu hari ada pengajian akbar yang muballighnya kebetulan K. Baqir sehingga miskipun jarak agak jauh dan harus berjalan kaki beliau berangkat untuk mengaji padanya.
Sesampainya di tempat terlihar di pinggir jalan sampai pada pintu masuk semua pengunjung sudah bersiap-siap untuk menyambut kedatangan beliau ( K. Baqir). Tapi apakah yang terjadi tak ada satupun yang tahu lewat mana K. Baqir, tahu-tahu K. Baqir sudah ada di atas pentas pengajian dan sudah memanggil salam sabagai pembukaan.
Kejadian ini di saksikan oleh banyak orang bukan cuma K. Abd Salam yang kebingungan bahkan semua hadirin sama ikut kebingungan kok bisa K. Baqir ada di pentas tanpa di ketahui kedatangannya. Tapi tak lama dari itu ada kabar bahwa pada waktu yang bersamaan beliau juga mengisi acara pengajian di lain tempat, Subhanallah, jadi tubuh K. Baqir ternyata bisa terbelah dua.
KISAH KE 10
Kisah ini saya dapat dari seorang paman yang punya nama Almarhum K. Satrawi, Beliau juga bertahun-tahun menjadi pembantu K. Baqir menjadi tukang ngambil buah kelapa. walau demikian beliau pernah di ajak ke dalem K. As'ad Situbondo maka semenjak itulah ia tahu dalem K. As'ad. Bahkan pada suatu malam pernah juga melihat K. As'ad dengan K. Baqir sedang asyik berduaan di luar pesantren padahal sehari penuh sampai tengah malam tidak ada satupun tamu yang datang bawak kuda maupun mobil. kelebihan K. As'ad bisa menabur kedelai menjadi tentara pada saat di kepung belanda sehingga semenjak itulah belanda tidak berani lagi masuk ke lingkungan pesantren K. As'ad.
Ceritanya begini, di malam itu Paman sama temanya bertekad untuk besok paginya akan pagi-pagi betul untuk mengambil kelapa. semua temannya sepakat demikian dan akhirnya setelah lepas jam 12 malam entah jam berapa saya lupa, maka paman saya berangkat keluar pesantren untuk mengambil beberapa karung kelapa yang kebetulan itu ada di bawah pohon kelapa yang tentunya tidak jauh juga dari pesantren
Saat memasuki tempat yang gelap terdengar ada dua suara manusia yang tidak begitu jelas keduanya. ia mencoba mendekati suara itu sambil mengintipnya dari jarak dekat tanpa sepengetahuan mereka. ternyata benar ada dua orang sedang duduk lagi asyik berbicara dengan suara agak pelan, satunya berjubah hitam menghadap ke timur dan satunya lagi menghadap ke barat.
Berhubung paman yang ngintip takut sampai ketahuan akhirnya mencoba melangkah memperlihatkan diri sambil mengambil karung yang letaknya tidak begitu jauh dari keduanya dan akhirnya yang menghadap ke barat menoleh serta mendekatinya dan ternyata bukan santri melainkan K. Baqir sang guru beliau. maka langsung K. Baqir tanyak pada paman "been de'enna' jeteyah anuah apah? (kamu malam-malam gini maunya apa?). maka sepontan paman saya terus terang saja bahwa lagi ngambil karung karena besok pagi maunya ngambil kelapa.
Sesudah itu kemudian K. Baqir titip pesan pada paman "Senga' yeh ka sapaah peih ce' lebele" (Awas ya, sama sipapun jangan di kasih tahu). terus K. Baqir melanjutkan pembicaraannya "aroah se e koca' K. As'ad Situbondo" (itu orang yang di sebut K. As'ad Situbondo) maka semenjak itulah paman saya tahu bahwa itulah orang yang di sebut K. As'ad.
Pada malam itu sang paman bertanya-tanya dalam hatinya kok K. Baqir dengan K. As'ad lagi berduaan di luar pesantren cuma paman berkeyakinan bahwa keduanya lagi mengadakan rapat rahasia tentang penjajahan Belanda yang rakyat indonesia lagi di landa cekam pada saat itu. tapi yang tidak habis pikir dari mana K. As'ad datangnya padahal tidak ada satupun kuda maupun mobil di halaman tamu. Paman saya yakin bahwa K. As'ad dari P.P. Syafi’iyah Salafiyah Asembagus Situbondo ke Ponpes Banyuanyar, Pamekasan,madura bukan menggunakan kendaraan pasti beliau terbang dari Sukorejo ke madura.
Cerita ini sampai paman punya anak dan sampai tua sangat takut menceritakan kejadian langka ini tapi akhirnya paman ceritakan juga kisah ini, mungkin ia sadar bahwa dirinya sudah tua karena tak lama dari itu akhirnya paman meninggal dunia.
KISAH KE 11
Sama dengan kisah yang ke 10, cerita ini saya juga dapat dari paman. beliau juga pernah bercerita semasa beliau mengabdi di Banyuanyar. Ada sebuah kejadian yang aneh pada sekitar jam 07 malam, dimana K. Baqir sekitar jam 03 sore beliau pamet mau berangkat ke jawa tapi tahu-tahu pada sekitar jam 07 malam dari arah jalan yang di barat laut sekitar jembatan sungai ada seekor kuda yang memang milik K. Baqir lagi lari dengan secepat mungkin akan tetapi tidak ada seorangpun di atasnya.
Santri yang menyaksikan hal ini semuanya keheranan ada apa dengan kuda ini kok larinya secepat itu kok tidak seperti biasanya. Saking rasa penasarannya sang paman mencoba mendekati kandang kuda miliki Kiai. Kemudian entah keluar darimana terlihat dari balik bidik kandang kudanya, K. Baqir melangkahkan kaki bergegas menuju dalemnya. ya jelas paman terkejut lo kok K. Baqir kapan beliau pulangnya dan darimana datangnya kok tahu-tahu ada padahal tadi sore K. Baqir jelas bilang mau ke jawa, masak secepat ini beliau pulang. begitulah kata paman dalam hatinya.
Karena tidak habis pikir, paman saya tanyak pada teman-temannya kapan K. Baqir datang mungkin ada yang melihatnya dan ternyata tak satupun temannya yang tahu kapan beliau datang.
Kebetulan saat melihat si kuda itu lari ada temannya yang memiliki mata batin yang tajam sama menyaksikan kejadian tersebut maka paman mencoba bertanya padanya siapa tahu temannya yang satu ini bisa melihatnya miskipun dengan mata batinnya tapi ternyata jawabannya sama artinya sama-sama tidak tahu dan batinnya tidak bisa menembusnya apakah yang tadi di atas kuda adalah K. Baqir atau bukan. Maka semenjak itulah semuanya berkeyakinan bahwa yang di atas kuda tadi pasti adalah K. Baqir dan siapa lagi kalau bukan dia. Subhanallah.
KISAH KE 12
Sama kisah ini dari paman (K. Satrawi). Pada suatu hari dalam lingkup pesantren ada pohon besar yang mau di tebang akan tetapi tukang tebangnya pada akhirnya merasa kerepotan untuk merobohkannya saking besarnya pohon itu. karena ada yang lapor sama K. Baqir tentang masalah ini akhirnya K. Baqir menyuruh tukang tebang dan semua santri agar menjauh dari pohon tersebut.
Semua santri dan tukang tebang tidak faham apa maksud K. Baqir, tapi tak lama dari itu semua pertanyaan terjawab yaitu dengan tiba-tiba terjadi angin besar yang mampu menggoyangkan pohon tersebut dan akhirnya si pohon bisa roboh dengan sendirinya, dalam hal ini juga di saksikan oleh banyak santri. Subhanallah.
KISAH 13
Sama dari paman. Kita tahu bahwa di tanah jawa yang letaknya ada di Kota Bondowoso disana ada sebuah jalan yang menakutkan yang di sebut jalan arak-arak,. konon waktu dulu jalan ini terkenal angker banyak perampok dan banyak hewan buasnya. Pada suatu malam K. Baqir melewati tempat tersebut, lalu di tengah jalan ada seekor singa yang tidak ada orang yang mampu menyingkirkannya, akhirnya K. Baqir mencoba mendekatinya serta menyuruhnya agar pergi ke alas saja maka dengan seketika si singa tersebut bangun dan pergi masuk ke dalam alas sehingga orang-orang bisa lagi melewatinya seperti biasanya.
KISAH KE 14
Sama juga dari paman. Pada saat beliau mengajaknya pergi menggunakan mobilnya tahu-tahu di tengah jalan ada polisi yang menyetop kendaraannya, maka K. Baqir turun dari mobilnya yang kemudian memegang besi yang ada di depan kepala mobil tersebut.
Maka seketika itu mobilnya di angkat dan di bolak balik sama K. Baqir sambil berkata sama polisi "Bapak, apakah mobil saya ada yang rusak?", dengan tanpa menjawabnya maka beberapa polisi tersebut langsung ketakutan sambil ngambil kendarannya laLu melaju dengan cepat entah pergi kemana.
KISAH KE 15
Sama juga dari paman. Pada suatu malam K. Baqir mengajak paman beserta 3 orang temannya ke Dalem K. As'ad Situbondo, sedangkan yang satu temannya bisa menyupir mobil akan tetapi setelah sampai di Kota Bangkalan Madura mobilnya macet tidak bisa jalan dan kebetulan tidak jauh dari tempat tersebut ada seorang bengkel mobil serta di pinggir jalan terlihat lautan terbentang luas. maka sama K. Baqir di suruh perbaiki padanya tapi apa kata tukang bengkel bahwa mobil ini bisa jadi selesai besok pagi soalnay masih mau di cari latak kerusakannya.
Karena tukang bengkel bilang seperti itu maka K. Baqir berkata sama sopirnya "Puh, beremmah reyah engko' kapuruh" (duh, gimana ini saya kesusu", begitu kata K. Baqir. Akhirnya paman dan tiga temannya berembuk bersama bagaimana ini caranya dan nanti mau nunggu dimana, untuk tidur di dalam mobil apa kata kiai dan jika tidur di luar kami jelas kedinginan. Kemudian dengan sepakat ke 4 orang santri ini mau bertanya pada K. Baqir mau nunggu dimana sampai pagi dan bagaimana dengan K. Baqir yang katanya malam itu harus sampai ke jawa.
Subhanallah ternyata belum menyampaikan apa-apa kemudian K. Baqir berkata "Tinah engko' nyareyah kendaraan laen, been kappi tedung e tang mobil antos sampe' kulakkuh, bileh mobil odi' been kappi tinah abelih peih ta' usa nabang sengko' " (Sudah ya saya mau cari kendaraan lain, kalian tidur saja di dalam mobil saya, jika mobil sudah hidup lagi ya sudah kalian kembali saja gak usah ngejar saya". maka sontak paman dan teman-temannya terkejut ternyata apa yang di musyawarahkan sudah terbaca oleh K. Baqir.
Karena mereka berempat sudah di suruh masuk ke dalam mobil maka dengan perasaan takut dan ta'dzim mereka membalikkan badan untuk masuk ke dalam mobil kiai tapi apa yang terjadi tahu-tahu K. Baqir sudah tidak ada di tempat dan akhirnya ke tiganya termasuk paman saya turun lagi dari mobil mau mencari K. Baqir kemana beliau pergi, akan tetapi sejauh kaki melangkah bahkan sampai bertanya pada orang-orang yang ada di pinggir jalan ternyata sama-sama tidak ada yang melihat orang yang masuk ke dalam mobil ikut taksi atau berjalan kaki.
Maka dengan sejuta penasaran antara paman dan keduanya kemblai lagi ke tempat mobil kiai serta masuk lagi ke dalam. ketiganya mencoba lagi bertanya pada tukang supir siapa tahu ia melihatnya akan tetapi jawabannya sama seperti sebelumnya iapun bilang gak tahu kemana K. Baqir pergi hingga akhirnya mereka ketiduran sampai pagi. Usai sholat subuh di paksa lagi sang supir di tanya siapa tahu ia melihatnya karena mereka bertiga meyakini sang supir pasti melihatnya dan setelah di paksa dan di paksa akhirnya si supir mengakui bahwa tadi malam matanya dengan jelas melihatnya K. Baqir sedang berjalan di atas air ke arah selatan sambil tangan kanannya memegang surban yang warna hijau dan tidak lama dari itu kemudian ia menghilang dari pandangannya.
Maka semenjak itulah mereka bertiga tahu bahwa K. Baqir ternyata mampu berjalan di atas air. menurut paman, beliau menghilang sekitar jam 10 malam.
Tak lama dari dari itu sang bengkel mobil di dekatinya dan ternyata apa kata tukang bengkel "di mobil ini sama sekali saya tidak menemukan kerusakan, sebentar ya akan saya hidupkan lagi" . begitu kata bengkel dan setelah di coba ternyata benar mobilnya langsung hidup padahal tadi malam sampai pagi sang bengkel sudah dengan sekuat tenaga mencari letak kerusakannya tapi gak ada sama sekali dan mobilnya tidak bsa di hidupkan.
Karena mobilnya sudah hidup maka mereka berempat kembali pulang menuju Ponpes Banyuanyar. Lalu Nyai istri K. Baqir nanyak "lo kok pulang mana kiainya, katanya kalian mau di bawak ke jawa" kata Nyai. Maka dengan pertanyan itu di buatnya mereka kebingungan harus menjawab apa, apabila tidak jujur takut di marahin kiai. kemudian mereka serempak menjawab sesuai dengan apa yang terjadi serta memberi tahu bahwa Kiai berangkat sekitar jam 10 malam.
Namun sang Nyai bertanya lagi "emangnya Kiainya ikut apa?". Pertanyaan Nyai ini sangat membingungkan untuk di jawab soalnya jika berkata jujur bahwa Kiai berjalan di atas air takutnya nanti Kiai marah dan jika berkata bohong maka jelas mereka lebih takut lagi . Maka dengan sejuta kebingungan mereka bisanya cuma merunduk tanpa menjawab apa-apa. untungnya si Nyai faham dan mereka di suruh kembali ke tempat masing-masing.
KISAH KE 16
Sama dari paman. Setahu beliau tidak ada santri yang di panggil K. Baqir yang datang dengan berjalan sopan semuanya pasti langsung lari persis seperti besi yang tersedot berani saking takutnya. terkadang santri punya keinginan untuk menyampaikan sesuatu selepas ngaji Kitab akan tetapi seringkali juga setelah bunyi sandal K. Baqir terdengar maka hilanglah apa yang mau di sampaikan dan gagal untuk menyampaikannya
Pada awalnya kata paman, K. Baqir itu seringkali kumpul sama santri cuma pada akhirnya karena situasi belanda sudah mulai mengancam K. Baqir akhirnya sejak saat itulah jarang lagi keluar untuk kumpul bersama santri. karena sudah lama santri tidak kumpul dengan beliau sehingga di pertanyakan sama banyak santri kenapa K. Baqir tidak lagi seperti biasanya. tapi akhirnya santri sadar bahwa K. Baqir pada saat itu dalam keadaan terancam belanda.
Akan tetapi semua santri tidak begitu panik karena mereka tahu kehebatan karomah yang di milki gurunya bahkan ada dari salah satu teman paman yang sampai berani berkata begini "Jangankan sampai melukai Sang Guru K. Baqir, Orang belanda cukup saja bisa menyentuh kulit K. Baqir maka demi Allah saya akan berguru pada belanda itu".
KISAH KE 17
Sama dari paman, Pernah K. Baqir di kepung sama belanda yaitu di suatu tempat entah dimana saya sudah lupa, kemudian K. Baqir hanya membaca Surat Al-Kahfi maka dengan izin Allah ladang yang di tempati K. Baqir tidak bisa terlihat oleh belanda dan akhirnya K. Baqir selamat dari kejahatan belanda tersebut.
KISAH KE 18
Sama juga dari paman. Pada suatu saat K. Baqir mengisi acara pengajian di suatu daerah, tak lama dari itu datanglah beberapa orang belanda dan langsung K. Baqir di tembak berulangkali ke atas pentas akan tetapi semua hadirin jadi keheranan, bagaimana tidak, semntara peluru yang di tembakkan belanda hanya di tangkap dengan tangan kanannya dan langsung meleleh jadi air. akhirnya belanda itu pergi menghilang tidak tahu entah kemana.
KISAH KE 19
Sama dari sang paman. Pas pada hari jumat kebetulan paman dan satu temannya sholat jumat di barisan terakhir. pada saat sholat tersebut terdengar keributan di luar masjid dan setelah paman menoleh ke belakang terlihat beberapa orang Belanda tampaknya mau mengepung K. Baqir dan tentu saja ingin membunuhnya atau paling tidak mau menangkapnya.
"Jujur, sholat saya waktu itu tidak sah begitu juga teman di samping saya bahkan ia berbisik pada saya, terus lirik orang belanda itu kata temannya, apabila nanti jelas sudah mau menuju ke tempat sholat Kiai ( K. Baqir) maka demi Allah akan saya lari kesana untuk membunuh seorang belanda itu" , begitulah penuturan paman.
Tapi ternyata orang belanda tidak maju-maju tetap berada di jalan raya dekat masjid tak ada satupun belanda masuk sampai sholat jumat selesai. Nah, sehabis manggil salam terakhir dari sholat jumat maka langsung saja semua santri lari secepat mungkin nenuju je depan imam untuk melindungi Sang Guru K. Baqir, begitu juga paman dan temannya langsung juga lari cepat untuk melindungi keselamatan Kiai namun apa yang terjadi ternyata di tempat sholatnya K. Baqir sudah menghilang tak ada satupun santri yang tahu kemana K. Baqir pergi, yang tersisa di tempat sholat K. Baqir hanyalah jubah hitamnya, kalau surban birunya katanya ikut menghilang bersama K. Baqir.
Begitu juga belanda ikut kebingungan kemana K. Baqir pergi sehingga akhirnya orang-orang belanda pulang dengan tangan hampa. maka sehabis orang belanda pulang para santri masih tetap penuh di dalam masjid satu sama lain saling bertanya kemana K. Baqir menghilang dan untungnya ada seorang ustadz mendekati tempat sholat K. Baqir lalu menengadahkan kepalanya ke atas dan kemudian merunduk kembali sambil menyuruh semua santri agar turun dan kembali lagi ke pondok masing-masing begitu juga paman ikut turun dari masjid, cuma karena paman tetap penasaran sama ustadz yang tadi menengadahkan kepala di tempat K. Baqir akhirnya paman kembali lagi masuk ke masjid ingin tahu ada apa di atas tempat sholat K. Baqir (tempat imam sholat). maka akhirnya paman mencoba juga menengadahkan kepalanya di tempat sholat K. Baqir tersebut dan ternyata paman melihat satu genting masjid persis tepat di atas K. Baqir sholat itu gentingnya merosot kebawah sekitar besar lubangnya 2cm maka sejak itulah paman tahu bahwa ternyata K. Baqir bisa terbang ke atas bahkan bisa masuk di celah lubang yang sempit sekalipun.
Semenjak kejadian inilah menurut paman, para santri sangat takut pada K. Baqir dan mengakui kehebatan karomah yang di miliki K. Baqir itu. Tutur paman.
KISAH KE 20
Bahkan kata paman, pernah suatu hari satu bom mengelinding di halaman pesantren akan tetapi bom tersebut surut hanya menyisakan kepulan asap. dan sampai sekarang bomnya masih ada di buat bel waktu sekolah. jadi semenjak itulah santri semakin yakin bahwa Ponpes Banyuanyar akan terlindungi dari serangan belanda.
KISAH KE 21
Sama dari paman. Sebetulnya belanda mau menyerang K. Baqir bukan cuma sekali dua kali akan tetapi sudah berkali-kali namun setiap kali mau memasuki pesantren Banyuanyar seolah-olah kekuatan belanda musnah dan pikirannya berubah menjadi kacau. Terbukti tidak jauh dari pesantren yang sampai sekarang di beri nama "Gunung Lengleng" (Gunung berputar) yang konon pada masa itu belanda mau menyerang Banyuanyar dari gunung tersebut akan tetapi semua belanda kebingungan hanya berputar-putar di gunung itu dan akhirnya rencananya batal maka mulai saat itulah gunung tersebut di beri nama "Gunung Lengleng".
KISAH KE 22
Kisah ini saya dapat dari seorang tamu yang termasuk alumni Banyuanyar, bahwa tidak jauh dari Pesantren Banyuanyar ada sebuah tempat yang di beri nama Paltuting, konon pada masa K. Baqir ada belanda berputar-putar mengendarai kapal terbang di atas sana dan akhirnya K. Baqir pergi ke bawahnya lalu sang kapal tersebut hanya di tunjuk dengan telunjuk tangan kanan K. Baqir maka tiba-tiba kapal tersebut jatuh dan terbakar di tanah maka mulai kejadian inilah tempat tersebut di beri nama "Paltuting" soalnya kapal itu cuma di tuting atau di tunjuk.
KISAH KE 23
Kisah ini saya dapat langsung dari Bapak saya sendiri. Pada waktu bapak mau berhenti mondok maka bertiga yang sama-sama satu kecamatan, Sama-sama mau pamit untuk pulang berhenti mondok maka K. Baqir berpesan pada ketiganya agar setelah sampai di rumah masing-masing jangan lupa mengajari tetangganya bagaimana cara ngaji dan bagaimana cara sholat yang benar. Dan terbukti ketiganya menjadi seorang kiai semua, Subhanallah
KISAH KE 24
Kisah ini saya dapat dari salah satu guru pada saat mondok, konon katanya dulu K. Baqir penah datang sekitar jam 03 malam kebetulan santri penjaga tiang besi untuk masuk pesantren tidak bangun-bangun saat di suruh buka tiang besi penghalangnya sementara K. Baqir lagi mengendarai mobilnya baru datang dari perjalanan.
Karena sang penjaga pintu tidak kunjung bangun akhirnya mobil yang beliau kendarai di terbangkan sehingga bisa melewati besi penghadang tersebut. di ketehui ke esokan harinya mobil kiai sudah ada di depan dalemnya dan terbukti juga dari besi tersebut yang sebagian menjadi bengkok. dimana di masa saya mondok disana si besi itu masih di abadikan entah sekarang masih ada atau tidak. saya belum memperhatikanny kembali tapi sepertinya sudah tidak ada.
KISAH KE 25
KH. Ahmad Faruq Bahruddin Tanggul Jember, beliau bercerita dan Perlu di ketahui, bahwa Kiayi Ahmad Faruq adalh masih keponakan Kiayi Baqir yang selalu di bawa kemanapun Kiayi Baqir pergi perjalanan jauh.
Beliau bercerita, sekitar tahun 1975, saya di bawa Paman Baqir ke Jawa untuk bersilaturrahmi. Dari Banyuanyar ke Pamekasan saya yang menyupir Mobilnya, setelah sampai di Pamekasan beliau minta pada saya supaya beliau yang menyupirnya. Akupun pindah tempat kebelakang dan Man Baqir yang jadi supir.
Anehnya, setelah sampai di desa Panglegur Pamekasan beliau melepaskan tangannya dari setir mobil dan tidur pulas. Sayapun gemetaran takut menabrak pohon asam di pinggir jalan. Bagaimana aku tidak gemetaran wong lajunya mobil sangat cepat.
Sesampainya di Kamal, beliau terbangun dari tidurnya, seraya berkata pada saya: "Ahmad.. Begini kalau nyupir Mobil ya..?, ini sekarang ganti lagi, kamu yang nyupir lagi." Subhanallah...
KISAH KE 26
Kata guru dulu bahwa K. Baqir sama Bapak Sukarno pernah beradu kesaktian, konon katanya K. Baqir bisa menyeret mobilnya hanya dengan seuntai benang jahit, sementara Bapak Sukarno menyeretnya menggunakan rambut jepang. maka dari kejadian tersebut bisa di ketahui bahwa keduanya memiliki kesaktian yang luar biasa hanya saja kesaktian Bapak sukarno masih kalah dengan kesaktian yang di miliki K. Baqir.
KISAH KE 27
Saya dapat kisah ini dari guru juga, konon katanya pernah K. Baqir berkumpul bersama para ulamak di ruang tamu beliau, kemudian ada salah satu ulamak meminta bukti atas kewaliannya maka akhirnya K. Baqir mengangakat tangan kanannya ke atas lalu tak lama kemudian menggenggam sesuatu dan setelah di bukanya ternyata di tangannya ada sebuah kurma yang masih segar bahkan getahnya masih meleleh.
KISAH KE 28
Sama ini saya dapat dari guru. Katanya K. Baqir mampu memahami berbagai macam bahasa, dari bahasa belanda, bahasa inggris, bahasa arab, dsb... Bahkan K. Baqir apabila tidak faham tentang sebuah masalah ilmu maka terkadang hadirlah Almarhum K. Majid yaitu ayah beliau sambil membisiki telinga K. Baqir tentang pemecahannya.
KISAH KE 29
Sama kisah ini dari seorang guru. K. Baqir apabila mau meminta ijazah dari suatu dzikir maka cukup beliau menghadapkan dirinya ke kiblat dan seaudah itu menurunkan ijazahnya kepada orang yang di kehendakinya.
KISAH KE 31
Sama kisah ini saya dapat dari salah satu guru. konon katanya masjid jamik Kota Pamekasan kebingungan untuk menentukan arah kiblat yang benar, akhirnya mengadakan rapat besar antar ulamak namun dari semua ulamak yang hadir tak ada satupun yang memilki jawaban yang memuaskan maka akhirnya K. Baqir yang memutuskannya entah dengan cara apa saya lupa dari kelanjutan cerita ini tapi intinya seperti itu.
KISAH KE 32
Sama dari salah satu guru. Konon pada masa itu banyak rakyat pamekasan yang suka main judi maka akhirnya K. Baqir ikut juga bermain dengan mereka dan ternyata K. Baqir selalu dapat kemenangan. berhubung mereka sudah angkat tangan karena uangnya habis maka K. Baqir berjanji akan kembalikan uangnya tapi denga satu syarat yaitu bertaubat kembali ke jalan yang benar maka dengan permintaan tersebut mereka menurutinya dan akhirnya mereka banyak yang berhenti berjudi karena di sadarkan olehnya.
KISAH KE 33
Sama cerita saya dapat dari salah satu guru. Konan di tanah jawa K. Baqir punya juga pesantren yang dulunya di tempat tersebut setiap ada ulamak yang mau mengajak ke jalan kebenaran pasti di usir sama warga karena mereka di anggap melawan ke hobbiannya dalam berjudi dan bermain seni musik tayub saronin.
Kemudian datanglah K. Baqir ikut bermain judi serta bermain tayub dan beliau seringkali meminta untuk menjadi seorang pendekar dalam kisah dramanya maka keadaan K. Baqir yang demikian jelas saja mendapat respon yang positif dari banyak warga dan akhirnya di terimalah K. Baqir itu untuk mendirikan sebuah pesantren di tempat tersebut dan pesantrennya masih ada sampai sekarang dan dikasih nama pondok pesantren Kalibaru yang mulai dirintis sejak tahun 1957. maka semenjak itulah K. Baqir terkadang ada di jawa dan terkadang juga ada di madura. Dapat dibayangkan bagaimana sulitnya mempimpin dua pondok sekaligus yang letaknya berjauhan. Namun hal itu dilakukan dengan penuh kesabaran dan semangat yang memang sudah terlatih dan teruji pada masa ikut berjuang menumpas penjajah.
KISAH KE 34
Sama dari guru. Pernah K. Baqir mengundang Saronin agar sudi membunyikan saroninnya di pesantren Banyuanyar. maka pada hari yang di tentukan K. Bakir menyuruh santrinya untuk memperbaiki tempat mereka di dalam masjid, para santri jadi keheranan masak mungkihkah semacam saronin akan di mainkan di dalam masjid yang memang menjadi rumah Allah dan apa kata tetangga beserta para santri tentang hal ini. Semua santri ternyta tak mampu memahaminya Tapi berhubung ini sudah menjadi kemauan sang guru tetap saja di perbaikinya ruangan masjid dan di tata dengan sedemikian rupa.
Lalu pada hari yang di tentukan datanglah rombongan saronin lengkap dengan gungnya maka semua santri sudah mulai berkerumun untuk menyaksikannya maka seperti biasanya K. Baqir menyambut juga kedatangan para tamu dengan penuh hormat tapi dengan cara mempersilahkan duduk di tempat ruang masjid yang sudah di sediakan untuk memainkan tabuhannya.
Subhanallah, semenjak itulah mereka semua bertaubat dan tidak jadi untuk memainkan bunyi saroninnya bahkan semua alat musiknya di kasih ke K. Baqir itupun terserah mau di buat apa. konon sampai sekarang alat musiknya masih ada.
KISAH KE 35
Kisah ini dari K. Mundzir. kata temen beliau pas K. Baqir mau meninggal dunia semua keluarga beliau di suruh keluar dari ruangannya dengan beberapa alasan agar mereka sudi menjauhinya dan pas di tenguk kembali ternyata K. Baqir sudah tutup usia yakni meninggal dunia. Beliau meninggal pada tahun 1980 M, dan kepemimpinan pesantren selajutnya dipimpin oleh menantunya yaitu K. H. Mohamad Syamsul Arifin.
Jadi pada saat beliau sakarotul maut tak ada satupun yang mengetahuinya karena dari pihak keluarga besar beliau tak terlintas bahwa sesungguhnya beliau akan meninggalkan keluarganya untuk selamanya. jika benar demikain seolah-olah beliau takut kepikiran jika pada saat beliau sakarotul maut melihat keluarganya menatap dengan wajah sedih saat ada di sampingnya. Sepertinya pula beliau tahu bahwa dirinya akan meninggal dunia, wallahu a'lam. Semoga amal beliau di terima di sisi Allah SWT serta dapat tempat yang jauh lebih sempurna dari kenikmatan yang di rasakan pada masa hidupnya.
Sabagai tanda penutup. Saya pribadi pada saat selesai berpuasa mutih selama 21 hari sempat di datangi K. Baqir dalam mimpi, pada waktu itu saya lagi tertidur pas lagi dzikir usai sholat tahajjud.
Ceritanya begini , Pada malam Jumat legi saya melihat K. Baqir lagi sholat berjamaah bersama ribuan santri dengan memakai jubah hitam dan selepas salam beliau menghadap pada semua jamaah, kemudian berjalan mendekati saya yang kebetulan saya tidak begitu jauh darinya. lalu beliau memegang bahu saya sambil berkata "Jika kamu suruh berdiri maka berdirilah" maka saya cuma bisa anggukan kepala sambil menjawabnya "Ia kiai".
Sesudah itu beliau duduk kembali di tempat sholat beliau maka dengan suara keras beliau berkata kepada semua santri "Abesaki kappi tereh" (kalian semua, lihatlah). kemudian selepas itu beliau berdiri lagi mendekati saya dan mengajaknya berdiri maka sayapun dengan perasaan malau bercampur takut terpaksa berdiri sesuai titahnya, lalu saya di bawak turun dari masjid ke sebelah kanan masjid dengan sambil berpegangan tangan,.
Pada saat itu saya merasakan tubuh K. Baqir tetlihat besar, gagah dan tinggi, jadi saat di ajak berbicara maka saya harus menatap ke atas cuma saya tidak ingat soal apa yang di bicarakan saat itu cuma yang jelas saya melihat semua santri menatap saya sama K. Baqir yang sedang lagi berjalan bergandengan tangan karena memang semua santri pada saat itu di suruh menatapnya, saya cuma merasa kebingungan di ajak jalan sama K. Baqir apalagi di pamerkan sama santri yang banyak jelas saya makin bingung bercampur malu dan takut.
Nah, sesampainya di pojok masjid timur daya beliau memutar badan berjalan ke barat dan sesampainya di pojok masjid sebelah kanan di barat daya maka saya di bawak lagi memutar badan berjalan sampai ke sebelah kanan pojok masjid di sebelah timur daya yang semula, kemudian kembali lagi jalan ke barat dan sesampainya di tempat beliau untuk naik ke masjid lalu saya di ajak masuk ke dalam masjid dan di suruh kembali ke tempat duduk semula. begitu juga K. Baqir langsung menuju tempat imam sholat atau tempat beliau sholat sambil menghadap lagi pada semua santri.
Tak lama kemudian dengan suara keras beliau berkata sama semua jamaah sambil lalu jempol beserta telunjuk tangan kanannya keduanya di lingkarkarkan dan di letakkan pada mata beliau yang kanan sehingga mata yang kanan persis seperti kita menatap dari lubang lecil sambil berkata pada santri dengan gaya bahasa madura yang kalau saya alihkan ke bahasa indonesia kurang lebih isi pesannya seperti ini "Demi Allah, saya di beri tahu siapa yang betul-betul taat kepada guru dan siapa yang kurang taat kepada gurunya, saya juga di beri tahu mana santri yang akan mendapatkan derajat yang tinggi dan yang tidak hanya saja saya tak mungkin menampakkan secara jelas kepada kalian sebab takutnya nanti saya sampai di murkai Allah"
Jujur, saat K. Baqir berkata demikian saya tak mampu melihat tubuh K. Baqir yang berbicara sambil tubuhnya bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri, jadi saya hanya bisa menatap lalu merunduk lagi terus demikian. dan kemudian sesudah itu terbangun dari tidurku dan ternyata saya bangun tetap saja tangan dan tasbih berputar begitu juga mulut saya masih tetap saja berkomat kamit baca dzikir "Lailaha illallah". Saya sadar bahwa barusan saya tertidur tapi mengapa tangan dan mulut saya tetap bergerak seolah-olah tidak tertidur. Dan mungkin karena rasa takutnya yang saya rasakan saat mimpi sampai baju saya basah kuyub dari air keringat dan hal itu baru saya ketahui setelah terbangun dari alam tidurku.
Sampai sat ini saya betul-betul masih kurang faham makna dari kesuluruhan mimpi tersebut. Saya berharap semoga dari sebagian pembaca disini nanti ada yang bisa menjelaskannya soalnya bagi saya mimpi ini sangat sulit untuk di pahami bahkan terasa sesulit memahami ke pribadian K. Baqir sendiri. jadi hal yang wajar apabila saya merasa sangat penasaran tentang kejadian ini namun sampai detik ini saya tidak faham apa arti dari kejadian ini.
Saya yakin, masih banyak kisah lain tentang karomah K. Baqir yang belum saya jelaskan disini. dan apabila pembaca memilki kisah tentang beliau yang berbeda atau mungkin ada kesamaan yang menurut anda lebih benar maka mohon kisah ini di perbaiki dengan cara berkomentar di bawah postingan ini. Saya mohon itu, cerita ini jika kurang benar agar di luruskan kembali.
Jika anda tertarik dengan cerita ini maka tak ada salahnya jika di sebar luaskan akan tetapi sekiranya anda ikhlas maka sertakan nama link postingan ini http://gusluthfy.blogspot.com sebagai tanda rasa saling menghargai karya orang lain namun jika anda keberatan maka sayapun tidak juga terlalu memaksanya. Maka atas kurang lebihnya saya mohon maaf sebanyak-banyaknya wal afwa minkum, Wassalamualaikum Wr Wb.
by : Gus Luthfy
http://gusluthfy.blogspot.com
Pada postingan kali ini saya mau menceritakan beberapa karomah Almarhum RKH. Abd Hamid Baqir bin Abd Majid Banyuanyar. Kisah ini saya dapat dari beberapa kiai yang dulunya mereka menjadi santri K. Baqir pada masanya, ini semua saya dapat langsung dari mereka, ibarat sebuah hadist maka kisah ini bisa dikatakan memiliki sanad yang shoheh.
Sebelumnya perlu anda ketahui bahwa dulunya RKH. Abd Hamid Baqir atau yang biasa di panggil dengan sebutan K. Bakir termasuk salah satu pejuang atas kemerdekaan Republik Indonesia akan tetapi menurut beberapa cerita beliau tidak mau di katakan sebagai pejuang padahal perjuangannya sangat besar untuk bangsa kita yang tercinta ini bahkan beliau sampai mendapatkan hadiah dua lambang pancasila yang terbuat dari besi dalam ukuran besar yang di sebut "NUK PERRIH", satunya di letakkan di sebelah timur Banyuanyar dan satunya lagi di latakkan di sebelah selatan Banyuanyar. Dua lambang ini menurut cerita adalah sebuah hadiah dari jenderal Sudomo, dimana ceritanya, Konon dua monumen tersebut merupakan hadiah dari Pangkopkamtib waktu itu di era 1970-an, Jenderal Sudomo yang berkunjung ke Banyuanyar untuk bersilaturahmi dengan KH. Abdul Hamid Baqir. Saat itu masih hangat-hangatnya penerapan azas tunggal oleh rezim Orde Baru.
Maksud dan tujuan pemasangan monumen tersebut antara lain; sebagai penghargaan kepada alm KH. Baqir atas jiwa patriotismenya yang turut serta berjuang melawan penjajah Belanda. Selain itu, sebagai bukti bahwa pondok pesantren berada di garda terdepan dalam membela NKRI. Bahwa Pancasila merupakan falsafah hidup bersama yang digali dari nilai-nilai agama (Islam) dan nilai sosial budaya Indonesia. Pondok pesantren menyadari hal tersebut karena perumus tels Pancasila juga terdiri dari perwakilan kaum santri. Kerelaan menghilangkan 7 kata dalam piagam Jakarta dalam teks Pancasila merupakan pengorbanan besar dari umat Islam untuk Indonesia.
Satu hal lagi yang perlu diteladani dalam kepemimpinan alm KH. Baqir yakni keberanian menerima kunjungan Sudomo yang saat itu memilik memeluk agama Kristen. Selain mengajarkan toleransi, KH. Baqir juga ingin mendudukkan persoalan secara proporsional, yakni menghormati Sudomo sebagai pejabat negara. Indonesia bukanlah negara Islam, maka setiap pejabat negara pun harus dihormati dalam kapasitas sebagai penimpin institusi negara. Mungkin karena barokah Ponpes Banyuanyar, pada tahun 1997 Sudomo kembali memeluk Islam.
Katanya dulu pada masanya K. Baqir di juluki sebgai macam madura dan julukan ini bukan tanpa alasan silahkan anda baca cerita perjalanan kehidupan beliau di bawah ini dan harap baca sampai tuntas agar nanti anda tidak gagal faham.
Semua cerita yang saya satukan ini tak lain sambil mengharap barokah dari beliau beserta para guru yang lainnya di Banyuanyar tanpa terkecuali. Lagipula siapa tahu ada hikmahnya buat kita semua. Amiiiiiinnnnn.
KISAH PERTAMA.
Kisah ini saya dapat dari seorang famili saya yaitu K. Mundzir alumni Banyuanyar. Dulunya beliau menjadi tukang pijat K. Baqir pada masanya. Menurutnya K. Baqir seringkali meminta pijat padanya hanya saja pada saat K. Baqir mau meninggal dunia ia kebetulan lagi pulang kerumahnya padahal menurut penuturannya "seandainya saya tidak kebetulan pulang maka saya yakin K. Baqir akan meninggal di sampingku sebab setiap saat hanya saya yang selalu di panggil untuk memijat beliau, wallahu A'lam".
Selama K. Mundzir memijat beliau ada sebuah keanihan yang sebelumnya tidak di ketahui. Menurutnya K. Baqir kalau meminta pijat jarang sekali dalam waktu singkat artinya seringkali lama sampai berjam-jam, sementara K. Mundzir takut untuk berhenti terkecuali beliau menyuruhnya berhenti.
Maka setiap kali memijatnya ia mengira K. Baqir sampai ketiduran, nah pada suatu malam K. Baqir minta di pijat lagi seperti biasanya, ia di pijat sekitar lepas sholat isyak sampai lepas jam 12 malam. Jadi K. Mundzir mengira setiap kali memijatnya pasti K. Baqir sampai ketiduran begitu juga pada malam itu.
Anehnya selama memijatnya selalu kedengaran bunyi sesuatu kayak bunyi arloji tapi sepertinya bukan bunyi suara arloji dan ternyata setelah berkali-kali di teliti Alhamdulillah pada malam itu menemukan jawabannya.... baru pada malam itu ia tahu bahwa K. Baqir sebetulnya bukan tertidur melainkan berdzikir memakai tasbih, dimana tasbihnya di letakkan dalam sarungnya sehingga K. Mundzir di buatnya tidak sadar bahwa K. Baqir sebetulnya setiap kali di pijat tidak pernah sampai tertidur.
KISAH KE 2.
Kisah ini tetap dari K. Mundzir, dimana pada suatu hari K. Baqir memanggil K. Mundzir ke ruangan khusus. Gak lama dari duduknya tahu-tahu K. Baqir mengambil pisang satu tandan dan berkata " Mun, Makan pisang itu sampai habis" . Maka sesuai perintahnya K. Mundzir langsung memakannya akan tetapi pada saat pertama kali mau menelannya tiba-tiba K. Baqir menanyakan sesuatu maka ya sudah pasti mata K. Mundzir belalakan di samping ketakutan juga pisangnya baru di santap dan belum di telan sudah di tanyak sama K. Baqir.
Menurutnya jika pisangnya mau di muntahkan gak mungkin dan jika harus menjawabnya gimana caranya. maka akhirnya dengan secepat kilat pisang itu di telan sampai habis padahal pisangnya baru saja di santap dan belum di kunyah, Sesudah itu baru menjawabnya sesuai apa yang beliau tanyakann, sehingga dalam menyaksikan hal ini membuatnya K. Baqir tersenyum.
K. Mundzir berkeyakinan bahwa pisang itu sudah di isi doa-doa dari K. Baqir akan tetapi K. Mundzir tidak berani bertanya saking rasa takutnya soalnya ke pribadian K. Baqir baginya memang sangat menakutkan.
KISAH KE 3
Kisah ini sama dari K. Mundzir. Pada suatu hari K. Baqir mewajibkan santrinya untuk sekolah sekaligus K. Baqir mengangkat para ustadz untuk mengajarnya. Perintah ini di sampaikan pas hampir pulangan santri. Maka sesuai titahnya akhirnya semua santri waktu itu yang sebelumnya cuma ngaji bertambah dengan aktivitas sekolah, hal ini berjalan sampai waktu pulangan santri,
Singkat cerita. setelah kembalian dari ke pulangan santri kemudian K. Baqir memberi pengumuman baru pada semua santri bahwa aktivitas sekolah di tutup lagi, K. Baqir berkata "Mulae ken sateyah ba'nah kappi tade' se tetti mured, tade' se tetti kuruh, baan kappi padeh tettih kuruh" . (mulai sat ini kalian tidak ada yang jadi murid, tidak ada pula yang jadi guru, kalian sama menjadi guru". Mungkin maksud dari K. Baqir tidak boleh ada dari santrinya yang merasa jadi guru dan merasa jadi murid dan semuanya telah di angkat sebagai guru. atau mungkin juga maksudnya bahwa santrinya yang patuh pada saat di suruh sekolah maka suatu saat akan menjadi seorang pemimpin.
Atas kejadian tersebut spontan para santri jadi kebingungan, Sama-sama kurang faham apa yang di maksud dari makna titah K. Baqir itu. maka semenjak itulah para santri dan para guru berhenti tak perlu lagi pergi ke sekolah. Kalau semua sudah di angkat guru ya siapa yang mau di angkat sebagai santrinya, bingung kan tapi santri sedikitpun tak ad yang berani usul padanya.
KISAH KE 4
Kisah ini saya dapat dari seorang kiai yang dulunya ia kerjanya cuma mengabdi padanya. Menurut se pengetahuan beliau, di dalam kamar K. Baqir ada tempat sholat khusus yang terbuat dari ranjang bambu . Nah, pada suatu malam K. Baqir memanggil beliau sebut saja namanya Ahmad soalnya saya sudah lupa namanya.
Dengan suara pelan K. Baqir memanggilnya, "Ahmad, kok kamu disitu masuk saja kedalam saya ada kepentingan, buka saja pintunya gak di kunci kok". Padahal pintu kamar tertutup kok bisa K. Baqir mengetahuinya, begitu penuturan K. Ahmad itu. Nah, karena di panggil maka K. Ahmad langsung saja membukanya dan terlihat K. Baqir baru usai sholat. Rencananya K. Ahmad mau masuk ke dalam untuk menghampiri beliau tapi baru satu langkah maju dengan langkah pelan maka seketika itu juga ia mengambil langkah cepat untuk mundur beberapa kali.
Menyaksikan hal itu K. Baqir bertanya, "Ahmad, lo kok mundur kenapa?" . maka dengan wajah ketakutan serta mulut terlihat gemetar si Ahmad ini menjawabnya "Maaf Kiai, bukannya kenapa tapi di bawah tempat sholat ajunan (sampean) itu ada seekor macan.
Saya tanyak kepada K. ahmad itu. "Pada saat lihat macan kenapa sampean sangat takut?. Lalu K. Ahmad menjelaskan kepada saya bahwa seekor macan itu menatapnya dengan pandangan tajam serta mulutnya menganga seperti saja mau memakannya. Maka maulai saat itulah K. Ahmad tahu bahwa K. Baqir di lindungi oleh seekor harimau gaib karena setahu dia selama pengabdi, K. Baqir itu gak punya macan sungguhan.
KISAH KE 5
Kisah ini sama seperti nomer 4, saya dapat dari seorang Kiai yang saya anggap nama beliau K. Ahmad soalnya nama aslinya saya lupa tapi ini cerita nyata bukan rekayasa.
Pada suatu hari. K. Baqir lagi sangat marah yang kata orang madura di namakan "tukah". Beliau tukah di dalam kamar yang pintunya tertutup. Saking rasa penasarannya akhirnya K. Ahmad memberanikan diri mengintip dari lubang kunci pintunya ternyata benar K. Baqir sendirian berdiri sambil marah-marah. Tapi gak lama dari itu K. Ahmad kemudian lari jauh-jauh soalnaya saat K. Baqir marah genting rumahnya merosot berantakan serta atap rumahnya kayaknya mau ambruk dan atap serta gedungnya terus bergoyang sampai K. Majid (ayahnya) dari dalemnya (rumahnya) keluar sambil berteriak "Ambu Kir mi' rempa' (Baqir, jangan teruskan nanti ambruk).
Perkataan K. Majid tersebut di dengar langsung oleh K. Ahmad dan seketika K. Baqir berhenti marah. Jadi andaikan sama K. Majid tidak di suruh berhenti maka bisa jadi kamar K. Baqir akan hancur berantakan hanya gara-gara beliau marah. begitulah penuturan K. Aahmad.
KISAH KE 6
Kisah ini sama, saya dapat dari seorang Kiai yang barusan saya anggap namanya K. Ahmad.
Pada suatu hari K. Baqir menyuruh K. Ahmad untuk bejalan di atas tumpukan kayu yang berduri tajam, ya namanya kayu berduri siapapun pasti takut untuk mencobanya begitu juga K. Ahmad yang ketakutan untuk mencobanya tapi sama K. Baqir tetap di suruh lari di atasnya.
Maka miskipun ada antara yakin dan tidak yakin tetap akan mencobanya demi rasa ketaatan diri kepada sangguru. K. Ahmad sadar bahwa dirinya tidak punya kelebihan apa-apa wong tugasnya cuma pembantu K. Baqir.
Saat mau mencoba K. Ahmad pejamkan mata karena tak ingin matanya melihat tumpukan duri yang tajam-tajam itu. saya tanyak padanaya "Boleh di jelaskan nama pohonnya?. K. Ahmad menjawabnya "pungkanah dadda' " kalau bahasa indonesianya saya kurang faham juga apa itu namanya, tapi subhanallah kata K. Ahmad, sedikitpun kakinya tidak terluka dan tidak terasa sakit sedikitpun, maka semenjak itulah K. Ahmad makin tahu bahwa begitu besarnya karomah K. Baqir itu.
KISAH KE 7
Kisah ini saya dapat dari Almarhum K. Abd Salam termasuk paman saya sendiri. Menurut penuturannya ternyata sama bahwa ke pribadian K. Baqir bin Abd Majid memang sangat menakutkan padahal beliau pada santri tidak pernah marah-marah.
pada suatu hari , semua santri yang ada pada hari itu di panggil mengahadapnya sehinga semua santri serentak mendekatinya dan perasangkaanya sama yaitu sama-sama mengira bahwa K. Baqir pasti lagi mau ngasih ilmu kepada santrinya.
Ternyata praduga santri salah. kebetulan di samping K. Baqir ada dua ekor kuda yang satunya kuda jantan dan satunya lagi kuda betina yang keduanya mau di kawinin maka semua santri yang ada waktu itu sekaligus K. Abd Salam di suruh menyaksikannya tapi disuruh semua duduk. Kita kan sudah tahu bahwa kemaluan kuda jantan besarnya mintak ampun apalagi yang namanya santri masih belum menikah alias masih bujang ya tentu para santri yang menyaksikannya terbawa rasa bernafsu melihatnya.
Kemudian K. Baqir bilang pada santrinya agar jangan lagi menyaksikannya dengan cara duduk, jadi mereka semua di suruh berdiri. tapi tak satupun santri yang mau berdiri, hehehee,,,,, ya bagaimana bisa mau berdiri sementara kemaluan mereka masing-masing sudah kenceng semua yang tentu merasa malu jika sampai nanti ketahuan sama K. Baqir. Berhubung tidak ada yang mau berdiri akhirnya sama K. Baqir semuanya di suruh pergi.
KISAH KE 8
Kisah ini sama dari K. Abd Salam. Katanya selesai ngaji kitab pada K. Baqir tiba-tiba beliau berkata bahwa dirinya punya ilmu mahabbah (pengasihan) yang jika di amalkan akan membuat wanita yang akan di nikahin tergila-gila. maka karena K. Baqir sudah menyampaikan semacam itu bararti mau menurunkan ilmu mahabbah pada santrinya sehingga para santri Sama-sama mengambil bolpoin sekaligus kertas kosong untuk siap-siap menulisnya.
Kemudian K. Baqir nanyak pada semua santri yang ngaji "Mintaah tereh" (Mau mintak kalian?). Maka namanya santri di tanyakan semacam itu ya jelas mau mintak saja apalagi yang mau ngasih seorang gurunya yang memiliki banyak karomah. tapi apa yang terjadi, pas saat santri sudah siap-siap untuk menulis lalu K. Baqir melanjutkan pembicaraannya "Tapi tereh guleh se olleyah elmo nikah sabillunah e patteng kelluh, beremmah siap tereh?" (Tapi wahai santri, sebelum saya mendapatkan ilmu ini tubuhku di tebas dulu, bagaimana siap kalian?".
Karena mendengar perkataan K. Baqir semacam itu maka dengan sepontan semua bolpoin dan kertasnya para santri langsung di letakkan sambil merunduk ketakutan dan gak jadi untuk memintanya bahkan semua ketakutan soalnya takutnya nanti salah satu dari santri akan di tunjuk untuk menerima ilmu tersebut tapi untungnya K. Baqir gak jadi untuk memberinya maka semua santri menjadi bahagia walau sedikit bercampur kecewa. Kata K. Abdus salam kebetulan waktu itu banyak santri yang menginginkan ijazah ilmu mahabbah yang langsung dari K. Baqir dan ternyata keinginan santrinya sudah terbaca oleh K. Baqir.
KISAH KE 9
Kisah ini sama dapat dari K. Abdus Salam, di suatu hari ada pengajian akbar yang muballighnya kebetulan K. Baqir sehingga miskipun jarak agak jauh dan harus berjalan kaki beliau berangkat untuk mengaji padanya.
Sesampainya di tempat terlihar di pinggir jalan sampai pada pintu masuk semua pengunjung sudah bersiap-siap untuk menyambut kedatangan beliau ( K. Baqir). Tapi apakah yang terjadi tak ada satupun yang tahu lewat mana K. Baqir, tahu-tahu K. Baqir sudah ada di atas pentas pengajian dan sudah memanggil salam sabagai pembukaan.
Kejadian ini di saksikan oleh banyak orang bukan cuma K. Abd Salam yang kebingungan bahkan semua hadirin sama ikut kebingungan kok bisa K. Baqir ada di pentas tanpa di ketahui kedatangannya. Tapi tak lama dari itu ada kabar bahwa pada waktu yang bersamaan beliau juga mengisi acara pengajian di lain tempat, Subhanallah, jadi tubuh K. Baqir ternyata bisa terbelah dua.
KISAH KE 10
Kisah ini saya dapat dari seorang paman yang punya nama Almarhum K. Satrawi, Beliau juga bertahun-tahun menjadi pembantu K. Baqir menjadi tukang ngambil buah kelapa. walau demikian beliau pernah di ajak ke dalem K. As'ad Situbondo maka semenjak itulah ia tahu dalem K. As'ad. Bahkan pada suatu malam pernah juga melihat K. As'ad dengan K. Baqir sedang asyik berduaan di luar pesantren padahal sehari penuh sampai tengah malam tidak ada satupun tamu yang datang bawak kuda maupun mobil. kelebihan K. As'ad bisa menabur kedelai menjadi tentara pada saat di kepung belanda sehingga semenjak itulah belanda tidak berani lagi masuk ke lingkungan pesantren K. As'ad.
Ceritanya begini, di malam itu Paman sama temanya bertekad untuk besok paginya akan pagi-pagi betul untuk mengambil kelapa. semua temannya sepakat demikian dan akhirnya setelah lepas jam 12 malam entah jam berapa saya lupa, maka paman saya berangkat keluar pesantren untuk mengambil beberapa karung kelapa yang kebetulan itu ada di bawah pohon kelapa yang tentunya tidak jauh juga dari pesantren
Saat memasuki tempat yang gelap terdengar ada dua suara manusia yang tidak begitu jelas keduanya. ia mencoba mendekati suara itu sambil mengintipnya dari jarak dekat tanpa sepengetahuan mereka. ternyata benar ada dua orang sedang duduk lagi asyik berbicara dengan suara agak pelan, satunya berjubah hitam menghadap ke timur dan satunya lagi menghadap ke barat.
Berhubung paman yang ngintip takut sampai ketahuan akhirnya mencoba melangkah memperlihatkan diri sambil mengambil karung yang letaknya tidak begitu jauh dari keduanya dan akhirnya yang menghadap ke barat menoleh serta mendekatinya dan ternyata bukan santri melainkan K. Baqir sang guru beliau. maka langsung K. Baqir tanyak pada paman "been de'enna' jeteyah anuah apah? (kamu malam-malam gini maunya apa?). maka sepontan paman saya terus terang saja bahwa lagi ngambil karung karena besok pagi maunya ngambil kelapa.
Sesudah itu kemudian K. Baqir titip pesan pada paman "Senga' yeh ka sapaah peih ce' lebele" (Awas ya, sama sipapun jangan di kasih tahu). terus K. Baqir melanjutkan pembicaraannya "aroah se e koca' K. As'ad Situbondo" (itu orang yang di sebut K. As'ad Situbondo) maka semenjak itulah paman saya tahu bahwa itulah orang yang di sebut K. As'ad.
Pada malam itu sang paman bertanya-tanya dalam hatinya kok K. Baqir dengan K. As'ad lagi berduaan di luar pesantren cuma paman berkeyakinan bahwa keduanya lagi mengadakan rapat rahasia tentang penjajahan Belanda yang rakyat indonesia lagi di landa cekam pada saat itu. tapi yang tidak habis pikir dari mana K. As'ad datangnya padahal tidak ada satupun kuda maupun mobil di halaman tamu. Paman saya yakin bahwa K. As'ad dari P.P. Syafi’iyah Salafiyah Asembagus Situbondo ke Ponpes Banyuanyar, Pamekasan,madura bukan menggunakan kendaraan pasti beliau terbang dari Sukorejo ke madura.
Cerita ini sampai paman punya anak dan sampai tua sangat takut menceritakan kejadian langka ini tapi akhirnya paman ceritakan juga kisah ini, mungkin ia sadar bahwa dirinya sudah tua karena tak lama dari itu akhirnya paman meninggal dunia.
KISAH KE 11
Sama dengan kisah yang ke 10, cerita ini saya juga dapat dari paman. beliau juga pernah bercerita semasa beliau mengabdi di Banyuanyar. Ada sebuah kejadian yang aneh pada sekitar jam 07 malam, dimana K. Baqir sekitar jam 03 sore beliau pamet mau berangkat ke jawa tapi tahu-tahu pada sekitar jam 07 malam dari arah jalan yang di barat laut sekitar jembatan sungai ada seekor kuda yang memang milik K. Baqir lagi lari dengan secepat mungkin akan tetapi tidak ada seorangpun di atasnya.
Santri yang menyaksikan hal ini semuanya keheranan ada apa dengan kuda ini kok larinya secepat itu kok tidak seperti biasanya. Saking rasa penasarannya sang paman mencoba mendekati kandang kuda miliki Kiai. Kemudian entah keluar darimana terlihat dari balik bidik kandang kudanya, K. Baqir melangkahkan kaki bergegas menuju dalemnya. ya jelas paman terkejut lo kok K. Baqir kapan beliau pulangnya dan darimana datangnya kok tahu-tahu ada padahal tadi sore K. Baqir jelas bilang mau ke jawa, masak secepat ini beliau pulang. begitulah kata paman dalam hatinya.
Karena tidak habis pikir, paman saya tanyak pada teman-temannya kapan K. Baqir datang mungkin ada yang melihatnya dan ternyata tak satupun temannya yang tahu kapan beliau datang.
Kebetulan saat melihat si kuda itu lari ada temannya yang memiliki mata batin yang tajam sama menyaksikan kejadian tersebut maka paman mencoba bertanya padanya siapa tahu temannya yang satu ini bisa melihatnya miskipun dengan mata batinnya tapi ternyata jawabannya sama artinya sama-sama tidak tahu dan batinnya tidak bisa menembusnya apakah yang tadi di atas kuda adalah K. Baqir atau bukan. Maka semenjak itulah semuanya berkeyakinan bahwa yang di atas kuda tadi pasti adalah K. Baqir dan siapa lagi kalau bukan dia. Subhanallah.
KISAH KE 12
Sama kisah ini dari paman (K. Satrawi). Pada suatu hari dalam lingkup pesantren ada pohon besar yang mau di tebang akan tetapi tukang tebangnya pada akhirnya merasa kerepotan untuk merobohkannya saking besarnya pohon itu. karena ada yang lapor sama K. Baqir tentang masalah ini akhirnya K. Baqir menyuruh tukang tebang dan semua santri agar menjauh dari pohon tersebut.
Semua santri dan tukang tebang tidak faham apa maksud K. Baqir, tapi tak lama dari itu semua pertanyaan terjawab yaitu dengan tiba-tiba terjadi angin besar yang mampu menggoyangkan pohon tersebut dan akhirnya si pohon bisa roboh dengan sendirinya, dalam hal ini juga di saksikan oleh banyak santri. Subhanallah.
KISAH 13
Sama dari paman. Kita tahu bahwa di tanah jawa yang letaknya ada di Kota Bondowoso disana ada sebuah jalan yang menakutkan yang di sebut jalan arak-arak,. konon waktu dulu jalan ini terkenal angker banyak perampok dan banyak hewan buasnya. Pada suatu malam K. Baqir melewati tempat tersebut, lalu di tengah jalan ada seekor singa yang tidak ada orang yang mampu menyingkirkannya, akhirnya K. Baqir mencoba mendekatinya serta menyuruhnya agar pergi ke alas saja maka dengan seketika si singa tersebut bangun dan pergi masuk ke dalam alas sehingga orang-orang bisa lagi melewatinya seperti biasanya.
KISAH KE 14
Sama juga dari paman. Pada saat beliau mengajaknya pergi menggunakan mobilnya tahu-tahu di tengah jalan ada polisi yang menyetop kendaraannya, maka K. Baqir turun dari mobilnya yang kemudian memegang besi yang ada di depan kepala mobil tersebut.
Maka seketika itu mobilnya di angkat dan di bolak balik sama K. Baqir sambil berkata sama polisi "Bapak, apakah mobil saya ada yang rusak?", dengan tanpa menjawabnya maka beberapa polisi tersebut langsung ketakutan sambil ngambil kendarannya laLu melaju dengan cepat entah pergi kemana.
KISAH KE 15
Sama juga dari paman. Pada suatu malam K. Baqir mengajak paman beserta 3 orang temannya ke Dalem K. As'ad Situbondo, sedangkan yang satu temannya bisa menyupir mobil akan tetapi setelah sampai di Kota Bangkalan Madura mobilnya macet tidak bisa jalan dan kebetulan tidak jauh dari tempat tersebut ada seorang bengkel mobil serta di pinggir jalan terlihat lautan terbentang luas. maka sama K. Baqir di suruh perbaiki padanya tapi apa kata tukang bengkel bahwa mobil ini bisa jadi selesai besok pagi soalnay masih mau di cari latak kerusakannya.
Karena tukang bengkel bilang seperti itu maka K. Baqir berkata sama sopirnya "Puh, beremmah reyah engko' kapuruh" (duh, gimana ini saya kesusu", begitu kata K. Baqir. Akhirnya paman dan tiga temannya berembuk bersama bagaimana ini caranya dan nanti mau nunggu dimana, untuk tidur di dalam mobil apa kata kiai dan jika tidur di luar kami jelas kedinginan. Kemudian dengan sepakat ke 4 orang santri ini mau bertanya pada K. Baqir mau nunggu dimana sampai pagi dan bagaimana dengan K. Baqir yang katanya malam itu harus sampai ke jawa.
Subhanallah ternyata belum menyampaikan apa-apa kemudian K. Baqir berkata "Tinah engko' nyareyah kendaraan laen, been kappi tedung e tang mobil antos sampe' kulakkuh, bileh mobil odi' been kappi tinah abelih peih ta' usa nabang sengko' " (Sudah ya saya mau cari kendaraan lain, kalian tidur saja di dalam mobil saya, jika mobil sudah hidup lagi ya sudah kalian kembali saja gak usah ngejar saya". maka sontak paman dan teman-temannya terkejut ternyata apa yang di musyawarahkan sudah terbaca oleh K. Baqir.
Karena mereka berempat sudah di suruh masuk ke dalam mobil maka dengan perasaan takut dan ta'dzim mereka membalikkan badan untuk masuk ke dalam mobil kiai tapi apa yang terjadi tahu-tahu K. Baqir sudah tidak ada di tempat dan akhirnya ke tiganya termasuk paman saya turun lagi dari mobil mau mencari K. Baqir kemana beliau pergi, akan tetapi sejauh kaki melangkah bahkan sampai bertanya pada orang-orang yang ada di pinggir jalan ternyata sama-sama tidak ada yang melihat orang yang masuk ke dalam mobil ikut taksi atau berjalan kaki.
Maka dengan sejuta penasaran antara paman dan keduanya kemblai lagi ke tempat mobil kiai serta masuk lagi ke dalam. ketiganya mencoba lagi bertanya pada tukang supir siapa tahu ia melihatnya akan tetapi jawabannya sama seperti sebelumnya iapun bilang gak tahu kemana K. Baqir pergi hingga akhirnya mereka ketiduran sampai pagi. Usai sholat subuh di paksa lagi sang supir di tanya siapa tahu ia melihatnya karena mereka bertiga meyakini sang supir pasti melihatnya dan setelah di paksa dan di paksa akhirnya si supir mengakui bahwa tadi malam matanya dengan jelas melihatnya K. Baqir sedang berjalan di atas air ke arah selatan sambil tangan kanannya memegang surban yang warna hijau dan tidak lama dari itu kemudian ia menghilang dari pandangannya.
Maka semenjak itulah mereka bertiga tahu bahwa K. Baqir ternyata mampu berjalan di atas air. menurut paman, beliau menghilang sekitar jam 10 malam.
Tak lama dari dari itu sang bengkel mobil di dekatinya dan ternyata apa kata tukang bengkel "di mobil ini sama sekali saya tidak menemukan kerusakan, sebentar ya akan saya hidupkan lagi" . begitu kata bengkel dan setelah di coba ternyata benar mobilnya langsung hidup padahal tadi malam sampai pagi sang bengkel sudah dengan sekuat tenaga mencari letak kerusakannya tapi gak ada sama sekali dan mobilnya tidak bsa di hidupkan.
Karena mobilnya sudah hidup maka mereka berempat kembali pulang menuju Ponpes Banyuanyar. Lalu Nyai istri K. Baqir nanyak "lo kok pulang mana kiainya, katanya kalian mau di bawak ke jawa" kata Nyai. Maka dengan pertanyan itu di buatnya mereka kebingungan harus menjawab apa, apabila tidak jujur takut di marahin kiai. kemudian mereka serempak menjawab sesuai dengan apa yang terjadi serta memberi tahu bahwa Kiai berangkat sekitar jam 10 malam.
Namun sang Nyai bertanya lagi "emangnya Kiainya ikut apa?". Pertanyaan Nyai ini sangat membingungkan untuk di jawab soalnya jika berkata jujur bahwa Kiai berjalan di atas air takutnya nanti Kiai marah dan jika berkata bohong maka jelas mereka lebih takut lagi . Maka dengan sejuta kebingungan mereka bisanya cuma merunduk tanpa menjawab apa-apa. untungnya si Nyai faham dan mereka di suruh kembali ke tempat masing-masing.
KISAH KE 16
Sama dari paman. Setahu beliau tidak ada santri yang di panggil K. Baqir yang datang dengan berjalan sopan semuanya pasti langsung lari persis seperti besi yang tersedot berani saking takutnya. terkadang santri punya keinginan untuk menyampaikan sesuatu selepas ngaji Kitab akan tetapi seringkali juga setelah bunyi sandal K. Baqir terdengar maka hilanglah apa yang mau di sampaikan dan gagal untuk menyampaikannya
Pada awalnya kata paman, K. Baqir itu seringkali kumpul sama santri cuma pada akhirnya karena situasi belanda sudah mulai mengancam K. Baqir akhirnya sejak saat itulah jarang lagi keluar untuk kumpul bersama santri. karena sudah lama santri tidak kumpul dengan beliau sehingga di pertanyakan sama banyak santri kenapa K. Baqir tidak lagi seperti biasanya. tapi akhirnya santri sadar bahwa K. Baqir pada saat itu dalam keadaan terancam belanda.
Akan tetapi semua santri tidak begitu panik karena mereka tahu kehebatan karomah yang di milki gurunya bahkan ada dari salah satu teman paman yang sampai berani berkata begini "Jangankan sampai melukai Sang Guru K. Baqir, Orang belanda cukup saja bisa menyentuh kulit K. Baqir maka demi Allah saya akan berguru pada belanda itu".
KISAH KE 17
Sama dari paman, Pernah K. Baqir di kepung sama belanda yaitu di suatu tempat entah dimana saya sudah lupa, kemudian K. Baqir hanya membaca Surat Al-Kahfi maka dengan izin Allah ladang yang di tempati K. Baqir tidak bisa terlihat oleh belanda dan akhirnya K. Baqir selamat dari kejahatan belanda tersebut.
KISAH KE 18
Sama juga dari paman. Pada suatu saat K. Baqir mengisi acara pengajian di suatu daerah, tak lama dari itu datanglah beberapa orang belanda dan langsung K. Baqir di tembak berulangkali ke atas pentas akan tetapi semua hadirin jadi keheranan, bagaimana tidak, semntara peluru yang di tembakkan belanda hanya di tangkap dengan tangan kanannya dan langsung meleleh jadi air. akhirnya belanda itu pergi menghilang tidak tahu entah kemana.
KISAH KE 19
Sama dari sang paman. Pas pada hari jumat kebetulan paman dan satu temannya sholat jumat di barisan terakhir. pada saat sholat tersebut terdengar keributan di luar masjid dan setelah paman menoleh ke belakang terlihat beberapa orang Belanda tampaknya mau mengepung K. Baqir dan tentu saja ingin membunuhnya atau paling tidak mau menangkapnya.
"Jujur, sholat saya waktu itu tidak sah begitu juga teman di samping saya bahkan ia berbisik pada saya, terus lirik orang belanda itu kata temannya, apabila nanti jelas sudah mau menuju ke tempat sholat Kiai ( K. Baqir) maka demi Allah akan saya lari kesana untuk membunuh seorang belanda itu" , begitulah penuturan paman.
Tapi ternyata orang belanda tidak maju-maju tetap berada di jalan raya dekat masjid tak ada satupun belanda masuk sampai sholat jumat selesai. Nah, sehabis manggil salam terakhir dari sholat jumat maka langsung saja semua santri lari secepat mungkin nenuju je depan imam untuk melindungi Sang Guru K. Baqir, begitu juga paman dan temannya langsung juga lari cepat untuk melindungi keselamatan Kiai namun apa yang terjadi ternyata di tempat sholatnya K. Baqir sudah menghilang tak ada satupun santri yang tahu kemana K. Baqir pergi, yang tersisa di tempat sholat K. Baqir hanyalah jubah hitamnya, kalau surban birunya katanya ikut menghilang bersama K. Baqir.
Begitu juga belanda ikut kebingungan kemana K. Baqir pergi sehingga akhirnya orang-orang belanda pulang dengan tangan hampa. maka sehabis orang belanda pulang para santri masih tetap penuh di dalam masjid satu sama lain saling bertanya kemana K. Baqir menghilang dan untungnya ada seorang ustadz mendekati tempat sholat K. Baqir lalu menengadahkan kepalanya ke atas dan kemudian merunduk kembali sambil menyuruh semua santri agar turun dan kembali lagi ke pondok masing-masing begitu juga paman ikut turun dari masjid, cuma karena paman tetap penasaran sama ustadz yang tadi menengadahkan kepala di tempat K. Baqir akhirnya paman kembali lagi masuk ke masjid ingin tahu ada apa di atas tempat sholat K. Baqir (tempat imam sholat). maka akhirnya paman mencoba juga menengadahkan kepalanya di tempat sholat K. Baqir tersebut dan ternyata paman melihat satu genting masjid persis tepat di atas K. Baqir sholat itu gentingnya merosot kebawah sekitar besar lubangnya 2cm maka sejak itulah paman tahu bahwa ternyata K. Baqir bisa terbang ke atas bahkan bisa masuk di celah lubang yang sempit sekalipun.
Semenjak kejadian inilah menurut paman, para santri sangat takut pada K. Baqir dan mengakui kehebatan karomah yang di miliki K. Baqir itu. Tutur paman.
KISAH KE 20
Bahkan kata paman, pernah suatu hari satu bom mengelinding di halaman pesantren akan tetapi bom tersebut surut hanya menyisakan kepulan asap. dan sampai sekarang bomnya masih ada di buat bel waktu sekolah. jadi semenjak itulah santri semakin yakin bahwa Ponpes Banyuanyar akan terlindungi dari serangan belanda.
KISAH KE 21
Sama dari paman. Sebetulnya belanda mau menyerang K. Baqir bukan cuma sekali dua kali akan tetapi sudah berkali-kali namun setiap kali mau memasuki pesantren Banyuanyar seolah-olah kekuatan belanda musnah dan pikirannya berubah menjadi kacau. Terbukti tidak jauh dari pesantren yang sampai sekarang di beri nama "Gunung Lengleng" (Gunung berputar) yang konon pada masa itu belanda mau menyerang Banyuanyar dari gunung tersebut akan tetapi semua belanda kebingungan hanya berputar-putar di gunung itu dan akhirnya rencananya batal maka mulai saat itulah gunung tersebut di beri nama "Gunung Lengleng".
KISAH KE 22
Kisah ini saya dapat dari seorang tamu yang termasuk alumni Banyuanyar, bahwa tidak jauh dari Pesantren Banyuanyar ada sebuah tempat yang di beri nama Paltuting, konon pada masa K. Baqir ada belanda berputar-putar mengendarai kapal terbang di atas sana dan akhirnya K. Baqir pergi ke bawahnya lalu sang kapal tersebut hanya di tunjuk dengan telunjuk tangan kanan K. Baqir maka tiba-tiba kapal tersebut jatuh dan terbakar di tanah maka mulai kejadian inilah tempat tersebut di beri nama "Paltuting" soalnya kapal itu cuma di tuting atau di tunjuk.
KISAH KE 23
Kisah ini saya dapat langsung dari Bapak saya sendiri. Pada waktu bapak mau berhenti mondok maka bertiga yang sama-sama satu kecamatan, Sama-sama mau pamit untuk pulang berhenti mondok maka K. Baqir berpesan pada ketiganya agar setelah sampai di rumah masing-masing jangan lupa mengajari tetangganya bagaimana cara ngaji dan bagaimana cara sholat yang benar. Dan terbukti ketiganya menjadi seorang kiai semua, Subhanallah
KISAH KE 24
Kisah ini saya dapat dari salah satu guru pada saat mondok, konon katanya dulu K. Baqir penah datang sekitar jam 03 malam kebetulan santri penjaga tiang besi untuk masuk pesantren tidak bangun-bangun saat di suruh buka tiang besi penghalangnya sementara K. Baqir lagi mengendarai mobilnya baru datang dari perjalanan.
Karena sang penjaga pintu tidak kunjung bangun akhirnya mobil yang beliau kendarai di terbangkan sehingga bisa melewati besi penghadang tersebut. di ketehui ke esokan harinya mobil kiai sudah ada di depan dalemnya dan terbukti juga dari besi tersebut yang sebagian menjadi bengkok. dimana di masa saya mondok disana si besi itu masih di abadikan entah sekarang masih ada atau tidak. saya belum memperhatikanny kembali tapi sepertinya sudah tidak ada.
KISAH KE 25
KH. Ahmad Faruq Bahruddin Tanggul Jember, beliau bercerita dan Perlu di ketahui, bahwa Kiayi Ahmad Faruq adalh masih keponakan Kiayi Baqir yang selalu di bawa kemanapun Kiayi Baqir pergi perjalanan jauh.
Beliau bercerita, sekitar tahun 1975, saya di bawa Paman Baqir ke Jawa untuk bersilaturrahmi. Dari Banyuanyar ke Pamekasan saya yang menyupir Mobilnya, setelah sampai di Pamekasan beliau minta pada saya supaya beliau yang menyupirnya. Akupun pindah tempat kebelakang dan Man Baqir yang jadi supir.
Anehnya, setelah sampai di desa Panglegur Pamekasan beliau melepaskan tangannya dari setir mobil dan tidur pulas. Sayapun gemetaran takut menabrak pohon asam di pinggir jalan. Bagaimana aku tidak gemetaran wong lajunya mobil sangat cepat.
Sesampainya di Kamal, beliau terbangun dari tidurnya, seraya berkata pada saya: "Ahmad.. Begini kalau nyupir Mobil ya..?, ini sekarang ganti lagi, kamu yang nyupir lagi." Subhanallah...
KISAH KE 26
Kata guru dulu bahwa K. Baqir sama Bapak Sukarno pernah beradu kesaktian, konon katanya K. Baqir bisa menyeret mobilnya hanya dengan seuntai benang jahit, sementara Bapak Sukarno menyeretnya menggunakan rambut jepang. maka dari kejadian tersebut bisa di ketahui bahwa keduanya memiliki kesaktian yang luar biasa hanya saja kesaktian Bapak sukarno masih kalah dengan kesaktian yang di miliki K. Baqir.
KISAH KE 27
Saya dapat kisah ini dari guru juga, konon katanya pernah K. Baqir berkumpul bersama para ulamak di ruang tamu beliau, kemudian ada salah satu ulamak meminta bukti atas kewaliannya maka akhirnya K. Baqir mengangakat tangan kanannya ke atas lalu tak lama kemudian menggenggam sesuatu dan setelah di bukanya ternyata di tangannya ada sebuah kurma yang masih segar bahkan getahnya masih meleleh.
KISAH KE 28
Sama ini saya dapat dari guru. Katanya K. Baqir mampu memahami berbagai macam bahasa, dari bahasa belanda, bahasa inggris, bahasa arab, dsb... Bahkan K. Baqir apabila tidak faham tentang sebuah masalah ilmu maka terkadang hadirlah Almarhum K. Majid yaitu ayah beliau sambil membisiki telinga K. Baqir tentang pemecahannya.
KISAH KE 29
Sama kisah ini dari seorang guru. K. Baqir apabila mau meminta ijazah dari suatu dzikir maka cukup beliau menghadapkan dirinya ke kiblat dan seaudah itu menurunkan ijazahnya kepada orang yang di kehendakinya.
KISAH KE 31
Sama kisah ini saya dapat dari salah satu guru. konon katanya masjid jamik Kota Pamekasan kebingungan untuk menentukan arah kiblat yang benar, akhirnya mengadakan rapat besar antar ulamak namun dari semua ulamak yang hadir tak ada satupun yang memilki jawaban yang memuaskan maka akhirnya K. Baqir yang memutuskannya entah dengan cara apa saya lupa dari kelanjutan cerita ini tapi intinya seperti itu.
KISAH KE 32
Sama dari salah satu guru. Konon pada masa itu banyak rakyat pamekasan yang suka main judi maka akhirnya K. Baqir ikut juga bermain dengan mereka dan ternyata K. Baqir selalu dapat kemenangan. berhubung mereka sudah angkat tangan karena uangnya habis maka K. Baqir berjanji akan kembalikan uangnya tapi denga satu syarat yaitu bertaubat kembali ke jalan yang benar maka dengan permintaan tersebut mereka menurutinya dan akhirnya mereka banyak yang berhenti berjudi karena di sadarkan olehnya.
KISAH KE 33
Sama cerita saya dapat dari salah satu guru. Konan di tanah jawa K. Baqir punya juga pesantren yang dulunya di tempat tersebut setiap ada ulamak yang mau mengajak ke jalan kebenaran pasti di usir sama warga karena mereka di anggap melawan ke hobbiannya dalam berjudi dan bermain seni musik tayub saronin.
Kemudian datanglah K. Baqir ikut bermain judi serta bermain tayub dan beliau seringkali meminta untuk menjadi seorang pendekar dalam kisah dramanya maka keadaan K. Baqir yang demikian jelas saja mendapat respon yang positif dari banyak warga dan akhirnya di terimalah K. Baqir itu untuk mendirikan sebuah pesantren di tempat tersebut dan pesantrennya masih ada sampai sekarang dan dikasih nama pondok pesantren Kalibaru yang mulai dirintis sejak tahun 1957. maka semenjak itulah K. Baqir terkadang ada di jawa dan terkadang juga ada di madura. Dapat dibayangkan bagaimana sulitnya mempimpin dua pondok sekaligus yang letaknya berjauhan. Namun hal itu dilakukan dengan penuh kesabaran dan semangat yang memang sudah terlatih dan teruji pada masa ikut berjuang menumpas penjajah.
KISAH KE 34
Sama dari guru. Pernah K. Baqir mengundang Saronin agar sudi membunyikan saroninnya di pesantren Banyuanyar. maka pada hari yang di tentukan K. Bakir menyuruh santrinya untuk memperbaiki tempat mereka di dalam masjid, para santri jadi keheranan masak mungkihkah semacam saronin akan di mainkan di dalam masjid yang memang menjadi rumah Allah dan apa kata tetangga beserta para santri tentang hal ini. Semua santri ternyta tak mampu memahaminya Tapi berhubung ini sudah menjadi kemauan sang guru tetap saja di perbaikinya ruangan masjid dan di tata dengan sedemikian rupa.
Lalu pada hari yang di tentukan datanglah rombongan saronin lengkap dengan gungnya maka semua santri sudah mulai berkerumun untuk menyaksikannya maka seperti biasanya K. Baqir menyambut juga kedatangan para tamu dengan penuh hormat tapi dengan cara mempersilahkan duduk di tempat ruang masjid yang sudah di sediakan untuk memainkan tabuhannya.
Subhanallah, semenjak itulah mereka semua bertaubat dan tidak jadi untuk memainkan bunyi saroninnya bahkan semua alat musiknya di kasih ke K. Baqir itupun terserah mau di buat apa. konon sampai sekarang alat musiknya masih ada.
KISAH KE 35
Kisah ini dari K. Mundzir. kata temen beliau pas K. Baqir mau meninggal dunia semua keluarga beliau di suruh keluar dari ruangannya dengan beberapa alasan agar mereka sudi menjauhinya dan pas di tenguk kembali ternyata K. Baqir sudah tutup usia yakni meninggal dunia. Beliau meninggal pada tahun 1980 M, dan kepemimpinan pesantren selajutnya dipimpin oleh menantunya yaitu K. H. Mohamad Syamsul Arifin.
Jadi pada saat beliau sakarotul maut tak ada satupun yang mengetahuinya karena dari pihak keluarga besar beliau tak terlintas bahwa sesungguhnya beliau akan meninggalkan keluarganya untuk selamanya. jika benar demikain seolah-olah beliau takut kepikiran jika pada saat beliau sakarotul maut melihat keluarganya menatap dengan wajah sedih saat ada di sampingnya. Sepertinya pula beliau tahu bahwa dirinya akan meninggal dunia, wallahu a'lam. Semoga amal beliau di terima di sisi Allah SWT serta dapat tempat yang jauh lebih sempurna dari kenikmatan yang di rasakan pada masa hidupnya.
Sabagai tanda penutup. Saya pribadi pada saat selesai berpuasa mutih selama 21 hari sempat di datangi K. Baqir dalam mimpi, pada waktu itu saya lagi tertidur pas lagi dzikir usai sholat tahajjud.
Ceritanya begini , Pada malam Jumat legi saya melihat K. Baqir lagi sholat berjamaah bersama ribuan santri dengan memakai jubah hitam dan selepas salam beliau menghadap pada semua jamaah, kemudian berjalan mendekati saya yang kebetulan saya tidak begitu jauh darinya. lalu beliau memegang bahu saya sambil berkata "Jika kamu suruh berdiri maka berdirilah" maka saya cuma bisa anggukan kepala sambil menjawabnya "Ia kiai".
Sesudah itu beliau duduk kembali di tempat sholat beliau maka dengan suara keras beliau berkata kepada semua santri "Abesaki kappi tereh" (kalian semua, lihatlah). kemudian selepas itu beliau berdiri lagi mendekati saya dan mengajaknya berdiri maka sayapun dengan perasaan malau bercampur takut terpaksa berdiri sesuai titahnya, lalu saya di bawak turun dari masjid ke sebelah kanan masjid dengan sambil berpegangan tangan,.
Pada saat itu saya merasakan tubuh K. Baqir tetlihat besar, gagah dan tinggi, jadi saat di ajak berbicara maka saya harus menatap ke atas cuma saya tidak ingat soal apa yang di bicarakan saat itu cuma yang jelas saya melihat semua santri menatap saya sama K. Baqir yang sedang lagi berjalan bergandengan tangan karena memang semua santri pada saat itu di suruh menatapnya, saya cuma merasa kebingungan di ajak jalan sama K. Baqir apalagi di pamerkan sama santri yang banyak jelas saya makin bingung bercampur malu dan takut.
Nah, sesampainya di pojok masjid timur daya beliau memutar badan berjalan ke barat dan sesampainya di pojok masjid sebelah kanan di barat daya maka saya di bawak lagi memutar badan berjalan sampai ke sebelah kanan pojok masjid di sebelah timur daya yang semula, kemudian kembali lagi jalan ke barat dan sesampainya di tempat beliau untuk naik ke masjid lalu saya di ajak masuk ke dalam masjid dan di suruh kembali ke tempat duduk semula. begitu juga K. Baqir langsung menuju tempat imam sholat atau tempat beliau sholat sambil menghadap lagi pada semua santri.
Tak lama kemudian dengan suara keras beliau berkata sama semua jamaah sambil lalu jempol beserta telunjuk tangan kanannya keduanya di lingkarkarkan dan di letakkan pada mata beliau yang kanan sehingga mata yang kanan persis seperti kita menatap dari lubang lecil sambil berkata pada santri dengan gaya bahasa madura yang kalau saya alihkan ke bahasa indonesia kurang lebih isi pesannya seperti ini "Demi Allah, saya di beri tahu siapa yang betul-betul taat kepada guru dan siapa yang kurang taat kepada gurunya, saya juga di beri tahu mana santri yang akan mendapatkan derajat yang tinggi dan yang tidak hanya saja saya tak mungkin menampakkan secara jelas kepada kalian sebab takutnya nanti saya sampai di murkai Allah"
Jujur, saat K. Baqir berkata demikian saya tak mampu melihat tubuh K. Baqir yang berbicara sambil tubuhnya bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri, jadi saya hanya bisa menatap lalu merunduk lagi terus demikian. dan kemudian sesudah itu terbangun dari tidurku dan ternyata saya bangun tetap saja tangan dan tasbih berputar begitu juga mulut saya masih tetap saja berkomat kamit baca dzikir "Lailaha illallah". Saya sadar bahwa barusan saya tertidur tapi mengapa tangan dan mulut saya tetap bergerak seolah-olah tidak tertidur. Dan mungkin karena rasa takutnya yang saya rasakan saat mimpi sampai baju saya basah kuyub dari air keringat dan hal itu baru saya ketahui setelah terbangun dari alam tidurku.
Sampai sat ini saya betul-betul masih kurang faham makna dari kesuluruhan mimpi tersebut. Saya berharap semoga dari sebagian pembaca disini nanti ada yang bisa menjelaskannya soalnya bagi saya mimpi ini sangat sulit untuk di pahami bahkan terasa sesulit memahami ke pribadian K. Baqir sendiri. jadi hal yang wajar apabila saya merasa sangat penasaran tentang kejadian ini namun sampai detik ini saya tidak faham apa arti dari kejadian ini.
Saya yakin, masih banyak kisah lain tentang karomah K. Baqir yang belum saya jelaskan disini. dan apabila pembaca memilki kisah tentang beliau yang berbeda atau mungkin ada kesamaan yang menurut anda lebih benar maka mohon kisah ini di perbaiki dengan cara berkomentar di bawah postingan ini. Saya mohon itu, cerita ini jika kurang benar agar di luruskan kembali.
Jika anda tertarik dengan cerita ini maka tak ada salahnya jika di sebar luaskan akan tetapi sekiranya anda ikhlas maka sertakan nama link postingan ini http://gusluthfy.blogspot.com sebagai tanda rasa saling menghargai karya orang lain namun jika anda keberatan maka sayapun tidak juga terlalu memaksanya. Maka atas kurang lebihnya saya mohon maaf sebanyak-banyaknya wal afwa minkum, Wassalamualaikum Wr Wb.
by : Gus Luthfy
http://gusluthfy.blogspot.com
Belum ada Komentar untuk "INILAH BEBERAPA KAROMAH K. BAQIR BANYUANYAR, PAMEKASAN"
Posting Komentar
Anda Sopan Kami Segan