Jejak Warisan Sunyi: Mengungkap Asal Usul Kiai Baroya Lembung
Di antara desir angin pagi yang menyusup lembut ke celah-celah pepohonan Lembung, Lenteng, Sumenep—terdapat jejak-jejak yang tak kasat mata namun begitu kuat terasa: jejak ilmu, jejak perjuangan, dan jejak nasab mulia. Jejak yang hidup dalam cerita lisan, doa-doa para santri, dan bisikan tanah tua yang pernah menjadi saksi lahirnya para ulama besar.
Setelah melakukan penelusuran hati-hati, menyusuri berbagai sumber, dan menggali dari banyak pihak, akhirnya kami menemukan titik terang tentang asal usul Kiai Baroya, sosok sentral dalam dakwah Islam di Desa Lembung, yang hingga kini masih dikenang sebagai penerus perjuangan Kiai Faqih.
Titik Terang dari Jalur Kokap: Kiai Baroya dan Kiai Hubaya
Ternyata, penetapan asal muasal Kiai Baroya ini bukanlah hal baru. Para tokoh sepuh seperti Kiai Tsabit dan Kiai Ahmad Karai telah sejak lama menyampaikan bahwa Kiai Baroya berasal dari garis keturunan Juk Balang, yang bermukim di wilayah Pakondang, Rubaru, Sumenep — tepatnya dari Dusun Kokap, yang oleh masyarakat sekitar disebut juga sebagai Kung Kokap.
Kiai Baroya bin Hubaya / K.H Syamsul Arifin bin Dzullimah bin Abdul Karim (Juk Balang) bin Shid (Juk Balang) bin Zainal Abidin bin Muhammad Al-Khatib bin Qosim (Sunan derajat) bin Ahmad Rahmatullah (Sunan Ampel)
Tradisi Keturunan, Warisan Kepercayaan
Dalam tradisi Madura yang kuat memegang jalur trah dan kesinambungan spiritual, bukan hal yang mengejutkan bila sesudah wafatnya Kiai Faqih, pesantren dan dakwah di Lembung tidak dibiarkan kosong. Karena beliau tidak memiliki keturunan langsung, sejak awal beliau mengangkat Bindara Saot sebagai anak angkat, yang memang masih kerabat sekaligus ponakan beliau.
Namun, perjalanan takdir membawa Bindara Saot ke jalur pemerintahan. Setelah menetap di pusat kota Sumenep dan diangkat sebagai raja, estafet perjuangan di Lembung tidak dilanjutkan olehnya, melainkan diserahkan kepada sosok lain yang bernasab kuat, berilmu tinggi, dan dekat secara kekerabatan: Kiai Baroya.
Pernikahan Barokah: Kiai Baroya dan Nyai Roimah
Untuk meneguhkan silaturahmi trah dan keilmuan, Kiai Baroya menikah dengan Nyai Roimah, putri dari Kiai Shaleh, seorang ulama terkemuka keturunan dari Kiai Bungso. Di sinilah jalur nasab antara Baroya dan Faqih semakin menguat, karena:
- Kiai Bungso adalah saudara dari Kiai Faqih
- Kiai Shaleh (ayah Roimah) adalah putra dari Kiai Bungso, artinya masih termasuk keponakan Kiai Faqih
- Nyai Roimah adalah putri dari Kiai Shaleh atau cucu dari keponakan Kiai Faqih
Dari pernikahan ini lahir seorang putra bernama Kiai Shihhah, yang telah menjadi pengembang pesantren dan melahirkan banyak ulama besar khususnya di wilayah Sumenep, Madura.
Lembung dan Cahaya yang Tak Pernah Padam
Lembung bukan hanya nama sebuah desa. Ia adalah tapak sejarah, tanah wasiat, dan tanah dakwah. Di sana, nama-nama seperti Kiai Faqih, Nyai Ceddir, Bindara Saot, dan Kiai Baroya tidak hanya dikenal, tetapi dihidupkan kembali setiap kali azan berkumandang dan kitab kuning dibuka.
Semoga siapa pun yang menelusuri jejak ini tidak sekadar mengenang nama, tetapi juga menyambung cahaya, menyatukan kembali yang berserak, dan melanjutkan perjuangan dalam bentuk-bentuk baru yang diridhoi oleh-Nya.
Karena sejarah bukan hanya untuk dibaca, tapi untuk dijaga. Dan warisan bukan sekadar harta, tapi amanah yang bercahaya.
Belum ada Komentar untuk "Asal Muasal Kiai Baroya: Kajian Nasab dan Tradisi di Sumenep"
Posting Komentar
Anda Sopan Kami Segan